2

Bukanlah Perantara

Menikmati tetiupan angin yang berujar lembut sama saja dengan menghela nafas sekejap seiring untaian merdunya rindu. Menenangkan, namun sedikit menyiksa karen candunya yang tak kalah hebat beradu sendu.


Ingin aku, ingin banyak. Banyak sekali yang aku inginkan. Tak ada yang mampu menampungnya selain dari mewujudkannya dalam satu kenyataan yang menyayat kepedihan. Walau terkadang polanya tak teratur, namun aku yakin Dia telah mengatur. Bukan hanya menunggu, tetapi jemput dan terimalah. Suatu sisi yang sempurna untuk menerkam harapan.


Aku tahu kita berbeda, aku tahu kita tak sama. Namun entah mengapa aku menikmati setiap hentakan kecurigaan untuk membangun tingkat kepercayaan.


--Pia Zakiyah

0

A Phrase of Belonging

2

Pendidikan Sebagai Judul

Terima kasihku… Ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna… selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku... dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat selalu... nasihat guruku
Terima kasih, Ku ucapkan.......

Satu lagu yang berirama merdu terlampir, ketika salah satu moment yang pas untuk lagu ini, tanggal 25 November, dimana satu hari bukan hari libur nasional tetapi ditujukan sebagai salah satu penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 dan diperingati setiap tahun: Hari Guru Nasional.

Bermula pada tahun 1912 dengan adanya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), semangat para guru yang tidak ingin terus menerus ada dibawah nama Belanda terus berkembang. Di tahun 1932 organisasi yang terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah ini berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia. Sampai pada akhirnya, dalam Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Melalui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Tepat 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

Terinspirasi dari salah satu hari penting itulah, saya dan Komunitas Aleut menyusuri jalur “pendidikan” lama di Bandung. Ternyata fungsi dari gedung-gedung yang dipakai zaman dahulu masih berlaku sampai sekarang.


Seperti pada titik pertama kami sampai, yaitu di Santa Alloysius, setelah berjalan dari tempat pertama berkumpul di Jalan Sultan Agung (Depan Patung PDAM alias Beasty Boys #halah #abaikan). Gedung yang dibangun tahun 1930 sampai 1932 ini dahulunya didirikan sebagai MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yaitu Pendidikan Dasar Lebih Luas, atau setara SMP.Namun pada masa pendudukan jepang tahun 1942-1945 Ken Petai menggunakan gedung tersebut untuk menawan musuhnya, orang-orang Belanda.

Jalan Merdeka mulai kehilangan payungnya, sehingga pori-pori kulit Aleutians mulai terisi partikel cahaya pancaran dari Sang Raja siang yang mulai menguap. Namun tak lama kemudian kami sampai di Santa Angela, yang didirikan Ordo Ursulinen. Dahulunya sekolah ini sebagai HBS (Hogere Burger School) atau Sekolah Menengah Atas Tertinggi (Lanjutan Sekolah Tingkat Menengah) yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang elit yang pintar. Pribumi boleh menuntut ilmu di sini asal mencakup dua alasan wajib tersebut. Terdapat sistem DO dan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Belanda untuk semua materi yang diajarkan. Jika dahulu ada seorang yang ingin melanjutkan pendidikan dari MULO ke AWS (Algeme(e)ne Middlebare School), ia tidak perlu melakukannya jika telah mendaftar ke HBS, karena masa belajar di sini 5 tahun (Setara dari SMP + SMA).


klik gambar untuk tampilan yang lebih besar

Komplek pendidikan Hindia Belanda ternyata masih di daerah Jalan Merdeka mengelilingi yang sekarang ini kita kenal dengan nama Balai Kota. Namun pada akhirnya, setelah masa politik etis yang digunakan Belanda, pemerintah pun mulai berfikir untuk membuat sekolah untuk para pribumi seperti Kweek School (1834), dengan mencetak guru-guru sendiri. Anak pribumi pun dididik untuk menjadi pendidik (Sekarang menjadi SD Banjarsari dan Kantor Polisi).

Sistem pendidikan pada saat itu sudah memiliki penjurusan pada tingkat SMA (kalau zaman sekarang seperti SMK). Mulai dari penjurusan Bahasa dan Budaya serta Ilmu Alam. Sehingga konsentrasi ilmu yang digunakan pun jelas. Dan tidak sembarang sekolah yang bisa menjadikan seseorang menjadi guru, karena harus mengikuti prosedur pengajar yang dicetak dari sekolah khusus pengajar. Setelah kemerdekaan, sistem penjurusan pun masih dipakai pemerintah dan muncullah sistem Universitas di Indonesia.

Setelah mengetahui informasi dari komplek pendidikan di seputaran Balai Kota (Sekolah Ekonomi, Sekolah Jasmani (Guru Olahraga) serta sekolah cikal bakal UNPAR), Aleutians yang tak menggunakan sun block pun kembali bergerak dibawah sinar sang surya dengan semangat yang belum pudar. Menembus Jalan Sumatra lewat Jalan Tera yang ada sehabis portal kereta di Jalan Braga. Dan kami pun sempat menemukan fenomena Kereta jurusan Cicalengka-Padalarang yang “ngetem” di salah satu jalur. Alhasil sesi foto gratis dan langka pun digelar seketika.




Perjalanan menuju target berikutnya pun berakhir, kami telah sampai di Wisma Van Deventer yang tetap menjadi sekolah khusus putri, dengan nama lembaga pendidikan Wanita International Putri University alias Universitas Wanita Internasional. Sedikit diskusi ngalor ngidul dan kaki para Aleutians pun harus kembali menjejak jalanan beraspal untuk menuju MULO yang didirikan pemerintah Kota Bandung pada tahun 1917, yang sekarang menjadi SMP Negeri 5 Bandung.

“Nongkrong” di pinggir got di bawah pohon Kersen pun tak masalah, karena rindangnya cukup mengobati dahaga yang mulai menjalar di tenggorokan kami setelah dari Jalan Van Deventer – Jalan Jawa – dan kembali ke Jalan Sumatra. SMPN 5 Bandung ini pun pernah dirampas oleh Jepang dan dijadikan markas oleh Ken Petai sebagai tempat untuk menawan dan menyiksa.

Kesabaran telah mengetuk-ngetuk takut meluap, maka dengan segera kami melanjutkan kembali perjalanan ke titik terakhir perjalanan “Ngaleut Jalur Pendidikan” ini, yaitu SMAN 3 dan 5 Bandung. Bangunan yang dirancang oleh Schoemaker ini dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda tahun 1916 sebagai Hoogere Burger School (HBS) yang setaraf dengan SMA, sekolah untuk anak-anak Belanda golongan menengah. Ken Petai pun menggunakan gedung ini di tahun 1941-1945 untuk keperluan mereka menawan dan menyiksa lawan.


Foto keluarga Komunitas Aleut di SMAN 3 dan 5. Sedikitnya Aleutians yang ikut tidak mengurangi rasa semangat untuk berfoto tentunya :)


Aku turun ke sini, membasahi, menemani
Merebak aroma sendu yang berujar syahdu
Menenangkan hati namun mencegat sedikit niat untuk pergi
Sabarkan hati, tak lama lagi aku kan pergi…
(Kutipan dari perkataan Sang Hujan, tadi dia berbisik ditelingaku)



Sayangnya, ketika kami akan pulang ternyata hujan yang cukup deras pun datang. Aleutians menunggu reda dengan mengisi perut dan sedikit berkelakar di tengah hari sampai akhirnya kami pun beranjak untuk pulang.

Pertanyaan: Sebutkan beberapa tempat yang pernah dijadikan markas oleh Ken Petai!
Silakan ambil hadiah di Jalan Buah Batu Dalam V untuk jawaban yang benar :D

referensi : dari sini

foto: dari mba kuke, dan mungkin akan menyusul (menunggu update lagi dari Mba Kuke, Teh Yanstri, Teh Karis, Bey dan tentunya BR!)
0

MuDA Creativity 4th Anniversary



click on the picture for larger view

MuDA Creativity 4th Anniversary

"IT's about Us : Air untuk Masa Depan"
kerja bareng Kompas MuDA dan AQUA

4 - 5 Desember 2010
Campus Center Barat , ITB
( Bandung, Jawa Barat)

Jangan lewatkan workshop-workshop seru:
-Workshop Fotografi oleh Yuniadhi Agung ( Pewarta Foto Kompas )
-Workshop Komik oleh Didiek SW ( Komikus Kompas )
-Workshop Jurnalistik oleh Adie Prinantyo ( Redaksi Kompas Jawa Barat )

Sabtu, 4 Desember 2010, TalkShow:
"Inspirasi Penulis" by A. Fuadi ( Penulis Negri 5 Negara, Ranah 3 Warna)

Minggu, 5 Desember 2010, TalkShow:
" Musikal Laskar Pelangi: Tren Baru Hiburan Anak Muda" by Mira Lesmana & Riri Riza

Ada juga insert sosialisasi Trust by DANONE , Telkomsel Mobil Campus, Sosialisasi Teknologi Robot dari WORLD EXPLORER ROBOTIC, Insert Bike Design by Polygon, dan lain-lain.

Also Performances:
- Pameran Karya Teknologi by PROFICIO ITB
- Zero Waste Event by U-GREEN ITB
- Temu komunitas sepeda, tema : menggerakan anak muda bandung "Sepeda sebagai Gaya Hidup"
- Band performance
- Games/Quiz, etc

Kunjungi juga Book Fair Gramedia, bakalan banyak buku-buku oke dengan harga miring...!

Diskon buku murah sampai dengan 70% Loh!

Daftarkan Tim SMA kamu untuk kompetisi Lomba Karya Recyle "Teknologi Ramah Lingkungan" (SMA,Kelompok).


Daftarkan juga Tim Dance km dalam Dance Competition,free registration (Umum,Kelompok).

Hadiah :
- Memperebutkan piala Kompas dan uang tunai 2 juta rupiah
- 3 Sepeda Polygon
- Ratusan voucher nonton XXI gratis !!!!


GUEST STAR :
PROJECT POP
WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY
THE PANAS DALAM
ALIKA


FREE ENTRANCE !

Kecuali HTM Workshop : Rp 20.000,-/orang
(inc.sertifikat, seminar kit, meals, goodiebag.)

Uang hasil pendaftaran akan disumbangkan untuk korban bencana alam (Wasior, Mentawai, dan Merapi) melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.

Details :
Acha 0811993433
Zaa 081221349991
Rachmat 085256777607

Atau datang langsung ke Gedung Graha Kompas Jl.RE Martadinata no. 46 Bandung

Follow twitter Kompas MuDA di @kompasmuda

Kompas MuDA , every Friday in Kompas daily !!!

Diselenggarakan oleh :
KOMPAS dan AQUA

Didukung oleh :
TELKOMSEL, WORLD ROBOTIC EXPLORER, Celebrity Fitness, Polygon, Hotel Santika Bandung, Keluarga Mahasiswa ITB & Institut Teknologi Bandung.

Media Partner :
Kompas.com , Gramedia penerbit buku utama , Elex Media Komputindo, Motion 97.5 FM , Sonora 92.0 FM, Majalah HAI,99ers radio FM, Raka radio 98.8 FM, Ardan 105.9 FM, i-Radio 105.1 FM

Daftar Kontributor Hermes for Charity Vol.2: EMPAT ELEMEN



Dengan bangga, TheHermes mengumumkan judul dan pengarang yang ikut berpartisipasi dalam e-book Hermes for Charity Vol.2: EMPAT ELEMEN.

Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya project amal ini

1. Demi Api Aku Mencintai/ Suryawan Wahyu Prasetyo/ @yuyaone

2. Karnaval/ Jia Effendie/ @JiaEffendie

3. Malam Itu, Saya Tak Membawa Api/ Faizal Reza/ @frezask

4. Buta/ Dinni Rahmi dan Reza Hamdi/ @dinnirahmi dan @rezaterpuji

5. Gadis Api/ Ksatria Cahaya/ @ksatriacahaya

6. Fluida dalam Kandang/ Jodhi P. Giriarso/ @Mistchegeo

7. Hujan dan Kedai Kopi/ Siska Ayu Soraya/ @seeska

8. Negeri Salju Abu-abu/ Rana Wijaya Soemadi/ @9lights

9. Elegi Buat Seruni/ Zeventina Octaviani/ @zeventina

10. Laila : Perempuan Berkekasihkan Ombak/ Asyharul Fityan Siregar/ @oijaw

11. Majimu/ Maria Sekundanti/ @danti25

12. Si Air Mungil/ Andi Pandu/ @iampandu

13. Partitur Musim/ Rendra Jakadilaga/ @therendra

14. Selamat Pagi Jakarta!/ Galuh Parantri/ @galoeh11

15. Tiket/ Astrid Dewi Zulkarnain/ @tantehijau

16. Membingkai Kenangan/ Luckty Giyan Sukarno/ @lucktygs

17. Semuanya Hilang Dengan Hal-hal Seperti Ini/ Farida Susanty/ @faridasusanty

18. Pesan/ Danang Saparudin/ @dansapar

19. Air Mata/ Ariev Rahman/ @arievrahman

20. Jika Cinta Jangan Mati/ Eliana Candra/ @ilaiana

21. Shunya/ PutraPerdana Kusuma/ @putrafara

22. Cinta Sepasang Batu dari Masa Lalu/ Sitty Asiah/ @sittyasiah

23. Rindu/ Artasya Sudirman/ @myARTasya

24. Sebuah Kotak dan Masa Lalu/ Pia Zakiyah/ @piazakiyah

25. Tanah Airku/ Sam Darma Putra/ @samdputra

26. Jiwa Ezra/ Chicko Handoyo Soe/ @gembrit

27. Phoenix Api dan Keabadian/ Alexander Thian/ @aMrazing

28. Senyawa/ Rahne Putri/ @rahneputri

29. Kumpulan Fiksi Mini / Dedi Rahyudi/ @dedirahyudi

30. Ilustrasi Cover Empat Elemen/ Lala Bohang/ @lalabohang

taken from The Hermes
Back to Top