Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Double Steak: Antara Enak, Murah, dan Naas

Makanan enak emang udah pasti banyak di Bandung.. tapi makanan yang enak dan murah.. nah.. (banyak juga sih :D) tapi, pernah gak, kamu gak suka dateng ke suatu tempat, kamu cela, tapi akhirnya kamu dateng lagi ke tempat itu, terus jatuh cinta sama rasanya?

I do.

Jadi ceritanya tuh dulu saya pernah ke suatu cafe, tempat makan di daerah Jalan Jawa di malam Minggu pertama saya sepanjang hidup. Sekitar awal kelas 2 SMA lah. Waktu itu saya dapet nonton gratis From Bandung With Love dari Kartu AS plus meet and greet sama artisnya di Empire BIP. Karena biasanya gak diijinin keluar rumah malem-malem di malam Minggu, maka saya minta ijin orang tua saya dengan alasan "sayang kalau dibiarkan begitu saja" si nonton gratisnya. Alhasil diijinin dan pulangnya (dalam keadaan cape dan lapar) saya ke suatu tempat yang sangat direkomendasikan sahabat saya, Double Steak.

Saya harus sabar nunggu makanannya, lama banget. Bangke abis. Emang sih sahabat saya udah ngingetin ke saya kalau nunggu orderan datangnya tuh emang lama. Tapi kirain gak selama itu. Untung aja makanannya enak. Enak, ya beneran enak. Kalau gak salah sih waktu saya pesen makanan ini:

Double Sirloin Steak dengan saus barbeque

Minumannya antara Fruit Punch dan Tropic Punch. Entah yang mana tapi enak banget. Tapi sayangnya semenjak saat itu saya gak pernah lagi dateng ke situ. Sampai di hari Minggu (2 Januari 2011) kemaren saya ke situ lagi dan pesen Double Beef Bolognese plus Blackberry Juice. Wuihhhh mantep dah! Ternyata dengan harga yang relatif murah dibanding steak di cafe lain, di sini bisa dapet rasa yang oke punya. Saya suka Blackpepper, dan saus yang membanjiri daging lezatnya pun nusuk-nusuk dilidah dengan rasanya yang kuat. Rempah-rempah banget!

Konyolnya lagi, saya kesana lagi dua hari kemudian (Selasa 4 Januari 2011).

Entah karena apa saya langsung pengen lagi. Tapi tragedi menyertai, udah pesenannya lama, customer servicenya naas abis deh, pengunjung gak dapet atensi yang ramah dari owner. dan sekali lagi, makanan datengnya telat. Udah gitu, saya yang asalnya pesenannya sama kayak waktu hari Minggu, eh salah dateng. pas udah dimakan pasta bolognesenya, baru ketahuan kalo dagingnya bukan beef, tapi chicken -,-" naas bukan? Tapi untungnya saya pesen vegetable cream soup. Seriusan, cream soup yang ini juga juara!

Mudah-mudahan Double Steak bisa memperbaiki kualitas pelayanan terhadap konsumennya, sayang loh padahal makanannya enak-enak!! Juara deh! tempatnya juga oke, cuma kurang luas aja dan engga ada kursi khusus buat couple. jadi kalo ada couple yang datang duduk di kursi kuota 4 orang, alhasil kursi yang 2 laginya gak kepake. Sayang banget... So far, saya rekomendasiin tempat ini kalau mau steak enak harga juga enak :)


Ini dia beberapa pictures of Double Steak :



Sekarang harganya naik Rp. 1000,-


Double Steak
Jl. Jawa, Bandung
Jl. Burangrang, Bandung
Range harga: Rp 10.000 - Rp 30.000,00


P.S. : karena saya gak motoin makannya, alhasil saya pake sumber gambar dari di bawah ini. Lain kali ingatkan saya untuk memfoto makannya ya :)

sumber satu
sumber dua
sumber tiga
sumber empat

Beruntung ada Om Google. Thanks Om.










Red Guava ♥

0

Hubungan Jalan Layang Pasupati dengan Pempek


Mengerjakan tugas memang udah jadi kewajiban mahasiswa ya, tapi kalau terus-terusan juga kok rasanya mumet di otak. Semacam pegel mata, tangan dan pikiran seharian di rumah depan laptop. Tapi untungnya si pacar ngajakin keluar, pengen makan keluar bareng malemnya. Tapi ternyata jadinya sorean, soalnya engga mau ketinggalan Indonesia di final AFF versus Malaysia jam 7 malem!

Tapi sialnya lagi, pas keluar rumah dan mulai naik jalan layang Pasupati, keadaannya jadi begini:


Di atas jalan layang ini hawanya jadi sesek gara-gara penuh sama kendaraan. Dan saya pikir cukup mengkhawatirkan. Takut banget nanti tiba-tiba retak atau runtuh akibat over kuota kendaraan yang harusnya cuma melintas di flyover. Dan ternyata, salah satu jalur yang turun ke arah dago emang udah ada yang retak sekitar 20 cm. BUSET. Bener-bener bikin deg-degan. Rasanya pengen cepet turun dan keluar dari jalur yang macet ini. Tindakan melanggar peraturan pun banyak dilakukan orang-orang. Jalan yang dari arah Cihampelas (yang harusnya jadi jalur naik kendaraan) malah jadi jalan buat kendaraan yang muter balik dan turun dari flyover. Naas, dan tanpa polisi. Otomatis "Pak Ogah" dadakan pun ngatur lalu lintas sekitaran situ.


Mohon tindakan lebih lanjut buat aparat keamanan, selain perawatan jalan layang yang wajib dilakukan (emangnya lo mau jembatannya retak-retak gitu?? gue ogahhh!) soalnya Flyover Pasupati ini udah jadi semacam jantung dan icon yang membantu mobilitas orang Bandung khususnya. Tapi saya heran, tumben-tumbennya jalan layang ini penuh banget, apa mungkin gara-gara jam habis kerja dan pada buru-buru pulang pengen nonton Final AFF yak?

Syukur bisa keluar dari flyover secepatnya dan cari makan. Saya kirain ni pacar mau ngajak makan dimanaaaa gitu. Soalnya pas ngobrol ditellpon waktu siang saya tanya mau makan dimana, eh dia jawabnya, "Ada deh, gimana nanti." Gimana gak mikir ada apa-apa ya? Ternyata ni anak pengen makan cuanki atau pempek. Katanya makan malem? --,--"

Pilihannya cuma 2, Cuanki Serayu atau Pempek Pak Raden. Dan karena saya lagi pengen makan pempek, Dipati ukur lah tujuan kami berikutnya. Kalau masih kuat ya nanti lanjut ke Cuanki Serayu.... :D

Menurut saya pempek pak raden ini tidak seheboh yang dibicarakan orang-orang. Rasanya flat dan kurang nendang. Engga pedes dan hambar. Entah kenapa. Atau mungkin gara-gara belinya yang di jalan Dipati Ukur? Ah entahlah, lain kali saya coba lagi. Tapi harus enak. Kadar enak pempek buat saya adalah yang ikannya kerasa, porsinya bikin kenyang, DAN BUMBUNYA HARUS PEDASSSSS!

Saya engga sempet dan engga keingetan ngambil foto sample makanannya. nah saya comot dari sini nih atas bantuan Om Google dengan keywords : Pempek Pak Raden bandung. Kira-kira beginilah si Pempek Pak Raden ini..



*Sebenernya gambarnya jauh lebih bagus daripada tampilan yang disuguhkan ke saya saat berjunjung mencicipi makanan ini :p

Mungkin gara-gara nyomot dari web kali ya. Nanti saya bakalan inget deh buat ngambil gambar sendiri. :)








Red Sugar ♥



2

Pendidikan Sebagai Judul

Terima kasihku… Ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna… selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku... dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat selalu... nasihat guruku
Terima kasih, Ku ucapkan.......

Satu lagu yang berirama merdu terlampir, ketika salah satu moment yang pas untuk lagu ini, tanggal 25 November, dimana satu hari bukan hari libur nasional tetapi ditujukan sebagai salah satu penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 dan diperingati setiap tahun: Hari Guru Nasional.

Bermula pada tahun 1912 dengan adanya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), semangat para guru yang tidak ingin terus menerus ada dibawah nama Belanda terus berkembang. Di tahun 1932 organisasi yang terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah ini berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia. Sampai pada akhirnya, dalam Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Melalui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Tepat 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

Terinspirasi dari salah satu hari penting itulah, saya dan Komunitas Aleut menyusuri jalur “pendidikan” lama di Bandung. Ternyata fungsi dari gedung-gedung yang dipakai zaman dahulu masih berlaku sampai sekarang.


Seperti pada titik pertama kami sampai, yaitu di Santa Alloysius, setelah berjalan dari tempat pertama berkumpul di Jalan Sultan Agung (Depan Patung PDAM alias Beasty Boys #halah #abaikan). Gedung yang dibangun tahun 1930 sampai 1932 ini dahulunya didirikan sebagai MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yaitu Pendidikan Dasar Lebih Luas, atau setara SMP.Namun pada masa pendudukan jepang tahun 1942-1945 Ken Petai menggunakan gedung tersebut untuk menawan musuhnya, orang-orang Belanda.

Jalan Merdeka mulai kehilangan payungnya, sehingga pori-pori kulit Aleutians mulai terisi partikel cahaya pancaran dari Sang Raja siang yang mulai menguap. Namun tak lama kemudian kami sampai di Santa Angela, yang didirikan Ordo Ursulinen. Dahulunya sekolah ini sebagai HBS (Hogere Burger School) atau Sekolah Menengah Atas Tertinggi (Lanjutan Sekolah Tingkat Menengah) yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang elit yang pintar. Pribumi boleh menuntut ilmu di sini asal mencakup dua alasan wajib tersebut. Terdapat sistem DO dan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Belanda untuk semua materi yang diajarkan. Jika dahulu ada seorang yang ingin melanjutkan pendidikan dari MULO ke AWS (Algeme(e)ne Middlebare School), ia tidak perlu melakukannya jika telah mendaftar ke HBS, karena masa belajar di sini 5 tahun (Setara dari SMP + SMA).


klik gambar untuk tampilan yang lebih besar

Komplek pendidikan Hindia Belanda ternyata masih di daerah Jalan Merdeka mengelilingi yang sekarang ini kita kenal dengan nama Balai Kota. Namun pada akhirnya, setelah masa politik etis yang digunakan Belanda, pemerintah pun mulai berfikir untuk membuat sekolah untuk para pribumi seperti Kweek School (1834), dengan mencetak guru-guru sendiri. Anak pribumi pun dididik untuk menjadi pendidik (Sekarang menjadi SD Banjarsari dan Kantor Polisi).

Sistem pendidikan pada saat itu sudah memiliki penjurusan pada tingkat SMA (kalau zaman sekarang seperti SMK). Mulai dari penjurusan Bahasa dan Budaya serta Ilmu Alam. Sehingga konsentrasi ilmu yang digunakan pun jelas. Dan tidak sembarang sekolah yang bisa menjadikan seseorang menjadi guru, karena harus mengikuti prosedur pengajar yang dicetak dari sekolah khusus pengajar. Setelah kemerdekaan, sistem penjurusan pun masih dipakai pemerintah dan muncullah sistem Universitas di Indonesia.

Setelah mengetahui informasi dari komplek pendidikan di seputaran Balai Kota (Sekolah Ekonomi, Sekolah Jasmani (Guru Olahraga) serta sekolah cikal bakal UNPAR), Aleutians yang tak menggunakan sun block pun kembali bergerak dibawah sinar sang surya dengan semangat yang belum pudar. Menembus Jalan Sumatra lewat Jalan Tera yang ada sehabis portal kereta di Jalan Braga. Dan kami pun sempat menemukan fenomena Kereta jurusan Cicalengka-Padalarang yang “ngetem” di salah satu jalur. Alhasil sesi foto gratis dan langka pun digelar seketika.




Perjalanan menuju target berikutnya pun berakhir, kami telah sampai di Wisma Van Deventer yang tetap menjadi sekolah khusus putri, dengan nama lembaga pendidikan Wanita International Putri University alias Universitas Wanita Internasional. Sedikit diskusi ngalor ngidul dan kaki para Aleutians pun harus kembali menjejak jalanan beraspal untuk menuju MULO yang didirikan pemerintah Kota Bandung pada tahun 1917, yang sekarang menjadi SMP Negeri 5 Bandung.

“Nongkrong” di pinggir got di bawah pohon Kersen pun tak masalah, karena rindangnya cukup mengobati dahaga yang mulai menjalar di tenggorokan kami setelah dari Jalan Van Deventer – Jalan Jawa – dan kembali ke Jalan Sumatra. SMPN 5 Bandung ini pun pernah dirampas oleh Jepang dan dijadikan markas oleh Ken Petai sebagai tempat untuk menawan dan menyiksa.

Kesabaran telah mengetuk-ngetuk takut meluap, maka dengan segera kami melanjutkan kembali perjalanan ke titik terakhir perjalanan “Ngaleut Jalur Pendidikan” ini, yaitu SMAN 3 dan 5 Bandung. Bangunan yang dirancang oleh Schoemaker ini dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda tahun 1916 sebagai Hoogere Burger School (HBS) yang setaraf dengan SMA, sekolah untuk anak-anak Belanda golongan menengah. Ken Petai pun menggunakan gedung ini di tahun 1941-1945 untuk keperluan mereka menawan dan menyiksa lawan.


Foto keluarga Komunitas Aleut di SMAN 3 dan 5. Sedikitnya Aleutians yang ikut tidak mengurangi rasa semangat untuk berfoto tentunya :)


Aku turun ke sini, membasahi, menemani
Merebak aroma sendu yang berujar syahdu
Menenangkan hati namun mencegat sedikit niat untuk pergi
Sabarkan hati, tak lama lagi aku kan pergi…
(Kutipan dari perkataan Sang Hujan, tadi dia berbisik ditelingaku)



Sayangnya, ketika kami akan pulang ternyata hujan yang cukup deras pun datang. Aleutians menunggu reda dengan mengisi perut dan sedikit berkelakar di tengah hari sampai akhirnya kami pun beranjak untuk pulang.

Pertanyaan: Sebutkan beberapa tempat yang pernah dijadikan markas oleh Ken Petai!
Silakan ambil hadiah di Jalan Buah Batu Dalam V untuk jawaban yang benar :D

referensi : dari sini

foto: dari mba kuke, dan mungkin akan menyusul (menunggu update lagi dari Mba Kuke, Teh Yanstri, Teh Karis, Bey dan tentunya BR!)
3

Eat and Hang Out

I never knew that holiday in a Monday will be so much relaxing .. like today..


Saya awali hari dengan berucap syukur kepada Yang Maha Kuasa, ah. Akhirnya, bisa juga ngerasain yang namanya rest-on-Monday sementara yang lainnya engga libur, alias tetep pada punya acara dan pekerjaan masing-masing. Namun sayang sungguh disayang, perut dan pikiran tetap terisi dengan yang namanya makanan, engga bisa gitu ya sehari aja ga terlintas "makanan" di pikiran :D

Ngomong-ngomong tentang makanan yang lagi ada di pikiran saya, rasanya engga tahan buat mulut saya komat-kamit baca mantra dan berharap di depan saya sudah tersaji banyak makanan :D Okelah kalau begitu, langsung merujuk kepada peringkat 1 dan 2. Terengtengtengteng.... Mereka adalah.. Mie Aceh dan Bakmi Godhog!

Di peringkat pertama ada Mie Aceh yang kaya dengan rempah-rempah. Saya selalu suka sama yang "pedas banget" dan pasti habis walaupun keringat bercucuran dan tanggul hidung yang jebol. Dan juaranya ada pada Mie Aceh Cie Rasa Loom!!! Di Buah Batu ada, di Jalan Diponegoro juga ada. Yang bikin nyaman lagi di sini duduknya pake sofa, jadi berasa eksklusif ;) . Eits, di sini bukan cuma ada Mie Aceh doang, tapi makanan yang lain juga banyak. Cuma teuteup, yang paling saya suka ya Mie Acehnya :)

Sedikit cuplikan waktu saya ke sana :D



Sedangkan di peringkat kedua berhasil diraih oleh Bakmie Godhog yang ada di Jalan Dipati Ukur 67, terletak di dekat pertigaan sebrang Vilour.



Bakmi Yogya yang ada di Jalan Bengawan juga enak, tapi teh pocinya lebih juara yang di Dipati Ukur walau kemasan dan tempatnya lebih luas dan modern yang ada di Jalan Bengawan. Teh pocinya itu dikasih nama NasGiThel (singkatan dari paNas, leGi, dan kenThel).



Lucu banget. Pelayanannya juga oke, ramah-ramah. Bakmienya wangi, aromanya keluar, soalnya dimasak pake arang.



Di sekitar Jalan Bengawan masih ada tempat asik buat nongkrong. Tapi saya saranin sih bener-bener buat nongkrong. Soalnya kalau buat makan kurang puas (komentar jujur :D). Tapi menunya oke punya, asik asik.



Malam Minggu kemarin (30102010) saya menghabiskan waktu dari sore sampai malam bersama pacar dan teman-teman di sana. Sebelumnya juga waktu buka puasa bareng temen di sana bisa sampe malem saking betahnya. Ngobrol-ngobrol, baca buku, pesen kopi atau racikan milkshake, main kartu, foto-foto, ya apapun yang pengen dilakuin. Sepengalaman saya, mau teriak-teriak ataupun nyanyi-nyanyi (dan di sini disediakan gitar loh), plus request lagu engga bakalan dimarahin. Santai dan asik. Terlebih yang asik di sini tuh nuansanya bikin pengen hiking. Soalnya banyak foto-foto nan keren punya owner yang lagi naek Gunung. Sukses bikin iri! Jalan Bengawan No 52 alias Kedai kopi Mata Angin ;)




Kalau pengen tempat yang lebih adem dan engga berisik tapi masih bisa nikmatin minuman penuh racikan cokelat atau kopi dan sejenisnya, tenang aja. Masih ada satu tempat yang asik. Di sini bisa sukses membaca dengan tenang atau pun ngumpul bareng temen sambil main UNO atau belajar bercerita. Cepet-cepet dateng ke Reading Lights di Jalan Siliwangi. By The Way, di lantai 2 ada galeri juga plus di sini ada Writing Class. Asik banget deh. Pelayanannya juga oke.



Mau makan? Atau sekedar nongkrong? Mau berisik? Atau lagi pengen adem?
Those four places are highly recommended d^,^b

I never knew that holiday in a Monday will be so much relaxing .. like today..


photos : from web jajanan, kuliner, facebook KKMA, dan pribadi.
0

Bertualang di antara yang Tak Bernyawa

Selama hampir satu tahun setengah saya tinggal di daerah Pasteur-Bandung, saya baru tahu hari ini kalau Taman Pemakaman yang selalu terlewati kalau mau ke TOL pasteur itu ternyata bernama Taman Pemakaman Umum Kristen Pandu. Dulu saya hanya tahu komplek pemakaman itu unik dan lumayan besar. Sempat terpikir ingin "ber-iseng ria" main ke kuburan itu tapi takut di judge freak. "Masa maen ke kuburan," begitu komentar teman-teman. Tapi ya sudahlah, toh saya dapet kesempatan kali ini bareng Komunitas Aleut . :D

Cuaca terik diantara jam 9 dan jam 10 Hari Minggu ini tidak mampu bikin saya berhenti mengayunkan langkah menyusul rombongan aleut yang sudah bergerak di TPU Pandu sedari pagi. Untungnya, sehabis Car Free Day di Dago saya masih kuat dong berjalan di bawah sapaan matahari yang menyengat ;). Setelah masuk lewat gerbang Jalan Djunjunan, akhirnya saya bertemu juga sama rombongan Aleut, yang kali ini tidak terlalu banyak, datang dari arah gerbang Jalan Pandu--Jalan Pajajaran. Meskipun sempat kebingungan dan hampir kewalahan (lebay) cari rombongan saking luasnya TPU Pandu ini (oke lebay fix, padahal ada handphone, tinggal telpon).



Ternyata, banyak pejuang Indonesia yang dimakamkan di sana. Tapi yang uniknya adalah, makam-makan para pejuang itu diberi tanda semacam bendera Indonesia di tiang yang diletakkan di atas kuburan mereka. Ada yang diketahui namanya dan ada yang tidak. Yang tidak diketahui namanya hanya mendapat ukiran angka di atas nisannya. Mulai dari angka 1, 2, 3 dan seterusnya.

Cuaca lama-lama tampak tidak mendukung, panas sekali. Lain kali jangan lupa bawa payung ataupun kaca mata hitam kalo ke sini (mau kemana? :p) tapi serius deh, kalau bawa kipas dan air putih dingin bakalan sangat membantu perjalanan menyusuri blok pemakaman. Mungkin gara-gara makamnya dibuat dari batu ya, dan hanya ada sedikit celah yang tampak permukaan tanahnya. Atau pengaruh lain juga mungkin datang dari posisi makam yang tidak rapi.

Ternyata, Arsitek ternama Prof. Ir. C.P. Wolff Schoemaker yang merupakan guru dari Ir. Soekarno waktu dulu sekolah di ITB, dimakamkan di TPU Kristen Pandu ini juga. Sebelumnya saya cuma baca di blog atau dikasih tahu orang-orang tentang info Schoemaker ini, dan ternyata benar tertulis di nisannya. Dia lahir di Banyu Biru dekat Ambarawa pada tahun 1882 dan meninggal tahun 1949 di Bandung--kota yang sangat ia cintai. Bapak yang satu ini merupakan pengguna gaya arsitektur Art-Deco, dan karyanya yang fenomenal dan masih nampak sampai sekarang yaitu Villa Isola yang sekarang menjadi gedung Rektorat UPI (depan fakultas eike :D #abaikan). Contoh karya Schoemaker lainnya yang sudah terkenal seperti Jaarbeurs, Gedung Merdeka (Concordia), Landmark, Gereja St.Petrus, Gereja Bethel, Majestic--AACC--New Majestic, Mesjid Cipaganti, Observatorium Bosscha dan lainnya. Oh iya, dia juga jadi arsitektur Penjara Sukamiskin. Setelah lama nian saya pernah tinggal di daerah sana, saya baru tahu Schoemaker pernah di isolasi di Lapas Sukamiskin waktu pemerintahan Jepang menguasai Indonesia, padahal dia adalah arsitek bangunan itu. Cukup lucu. Namun, saya tidak tahu apakah ruangan tempat dia ditahan dulu "diabadikan" seperti ruangan bekas Ir. Soekarno.





Monohok, kata yang tepat ketika sudah mengetahui bangunan-bangunan yang dirancangnya-- lalu melihat kondisi "rumah bawah tanah" Schoemaker sekarang. Tidak terurus sama sekali. Bahkan katanya, makamnya pernah hampir dibongkar gara-gara belum bayar pajak yang harganya sekitar Rp 30.000-an. Ada yang bilang akhirnya pajak tersebut dibayar oleh salah satu keluarganya yang datang dari Belanda mencari kuburannya, tetapi info terakhir yang paling update yang saya dapat dari komen-komen foto di facebook, yaitu dari Bang Ridwan Hutagalung, Guruh Soekarno Putra lah yang membayar pajak makam itu selama 20 tahun ke depan. Ya, setidaknya jasad bapak Art-Deco ini boleh tenang sedikit. CMIIW.




Saya berhasil masuk ke Negeri Belanda, eh, tangan saya maksudnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu kalau Belanda memiliki tanah di TPU Pandu ini, yak, di Bandung. Pemakaman khusus prajurit Belanda yang dirawat oleh orang Indonesia. Om Indra Pratama bilang, ada 7 teritorial Belanda yang seperti ini di Indonesia. Di Bandung, satu lagi terdapat di Leuwi Gajah. Sisanya terdapat di kota lain. Kalau sudah lewat pagar, bukan wilayah kekuasaan Indonesia lagi. Pantas saja izin masuknya sangat ketat dan sulit sekali. Meskipun sudah melobi berkali-kali tapi tetap saja tidak diperkenankan masuk kalau belum mengantongi izin dari organisasi yang mengurusnya di Jakarta. Kecuali kalau saya berdarah Belanda dan memiliki hubungan dengan yang dimakamkan di situ. Saya beserta teman-teman mau tidak mau harus puas dengan memandangnya dari luar. Ngintip-ngintip dikit boleh lah ya...




Ereveld Pandu, begitu yang tertulis di gerbang pemakaman Belanda itu. Selain penjaga yang lebih disiplin, Kuburannya pun (kata sang penjaga) lebih rapi dan memiliki jarak, sehingga tidak saling berdekatan dan tidak menimbulkan kesan menyesakkan.

Melaksanakan ritual perjalanan, Foto keluarga :)


Kembali berkeliling dan sampailah Aleut di makam social scientist dari Yale University, Raymond Kennedy. Lahir pada tahun 1906, 11 Desember di Holyoke, Massachusets dan dibunuh tahun 1950. Dia bersama Robert Doyle a Time correspondent, sedang mengendarai jeep dari Bandung sekitar tanggal 27-28 April dalam tugasnya untuk proyek penelitian dalam kontak budaya dan akulturasi di Indonesia. Warga negara Amerika ini pernah juga mengajar di Brent School, Filipina. Semenjak di Amerika, ia sudah mempelajari tentang Indonesia di perpustakaan Yale University. Konon katanya ia beserta rekannya ditangkap karena penelitian yang ia lakukan terhadap Belanda saat itu. Lagi-lagi, kuburannya nampak sangat terabaikan, dikelilingi dan tertutupi belukar. Bahkan namanya pun sudah sangat memudar. (klik ini untuk sumber)


Ternyata melewati orang-orang yang sudah tak bernyawa itu aneh rasanya. Sepertinya energi ini melemah karena terhisap sesuatu. Lumayan untuk mengingatkan kalau dunia ini fana, dan takkan selamanya kita hidup. lalu apa yang harus kita persiapkan untuk kita mati? Salah satunya yang jangan dilupakan yaitu kavling masa depan dengan pajak yang sudah terjamin.



Sayang sekali saya datangnya telat, padahal kalau lebih pagi sedikit saya bisa ikut melihat tengkorak-terkorak yang tidak berada di dalam tanah dan melihat patung semacam di Tamam Prasasti di makamnya Ursone, pengusaha susu murni pertama di lembang. Sang Direktur BMC menulis “Vergeet U niet, dat er in geheel Nederlandsch Oost-Indie slechst een Melk centrale is, en dat is de Bandoengsche Melkcentrale !” (“Anda jangan lupa, bahwa di seantero Nusantara ini cuma ada satu Pusat Pengolahan Susu, dan itu adalah Bandoengsche Melk Centrale!”). 30 ekor sapi mengawali usaha keluarga ini dengan hasil 100 botol perhari, namun berkembang menjadi 250 ekor sapi pada tahun 1940 dengan produksi ribuan liter perhari. Kita bisa menikmati produksi dari pengolahan BMC ini di Jalan Aceh No. 30 Bandung dekat Mesjid Al-Ukhuwah di seberang Barat Balai Kota Bandung.

Photos : Hasil menculik dari albumnya Mba Ayu 'Kuke' Wulandari dan Bang Nara Wisesa
Back to Top