
Percakapan Ini

For you, my partner in love


When All I Can Do is Nothing

Once a Week

A Year With This Indulgent Person :)
"You see, I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad,
If You only knew what I'm go ing through,
I just Can't Smile Without You. " --- Barry Manilow
Today (in last year), I got something inside my stomach. Yeah, it was a butterfly. It flew above my speech and then I said "yes" for someone's question. I couldn't believe it, because (in that time) I didn't even know him much. He's one of hundreds people that met with me at Komunitas Aleut booth in Opening House Unit ITB (7th of August, 2010). So.... it was very unpredictable condition being in relationship with someone that you just knew---in a month). But I knew that decision wasn't wrong.. because it metamorphosed into million roses that never shriveled.. :)
An approach doesn't represent how many days that you will through along in relationship process. Believe me. A short one won't identified how long the relationship would be, because it depends on how we could deal with understanding each other, or bear with problems come up.
This person could muffle me with his way, with his quiscent thing.
This person could make me curious because of his unique characteristic.
This person could stand my debate---discussion of everything that questioning in my head.
This person could be honest to say I'm a stubborn girl.
This person could make me try sticking out of having Long Distance Relationship.
This person.... oh I have too much everything to say. This posting wouldn't enough.
This person is Ihsan Nurul Fauzi.
Someone who loves hiking and he treats me like a princess.
Someone who I couldn't meet on my first anniversary with him.
Someone who I couldn't hug on his 23rd birthday.
But I wish I'll always be the only special birthday present, as he said last year. As I agree to be.
Thanks God, he loves me just the way I am.
Mimpi Buruk Itu
Bukan tentang apa yang terjadi pada kamu
Tetapi sebutlah itu "kita"
Di saat kekhawatiranku terus berlanjut ke dalam fiktif bertanda
Malam tadi terasa lebih menyesakkan dada
Terasa lebih nyata...
Terasa aliran emosi yang bukan hanya semata..
Terasa lebih hebat emosi yang bergulir di sana...
Mataku tak terbuka
di saat aku berharap terbangun dari murka
Aku resah,
dan berpaling dari bayangan itu.
Aku hanya takut melihat hal buruk, hal yang lebih buruk..
Tidak seperti mimpi yang lalu
Di mana nafasku memburu,
di mana keringatku bercucur...
Di mana kamu ingin meninggalkanku.
Namun aku terhentak oleh tamparan pukul dua malam
Dan aku bersyukur, itu bukan kenyataan...
Semoga semua ini bukan pertanda apa-apa
Semoga hanya menjadi kekhawatiranku saja
..... yang menjadi bukti betapa aku ingin kamu saja.
Seberkas Harap
Seumpama selimut es krim kemarin sore
Meleleh tak lagi padat
Namun manisnya tetap dirasa
Akankah pudar esok hari?
Kuharap tidak.
Adakah dia dentingan senja di pagi hari
Embun bernyanyi seiring semilir angin
Cahaya berpendar ke segala penjuru
Dan sosoknya tiba, terhembus lagu untuk masa depan...
Dia kah?
Kuharap nyata..
*Oleh senyuman,

Thankful
Surat #1 : Dikala Saya Terbaring Lemah
Fill all of the navy yards
With hard working security guards
Cuz the numbers are wearing out
My plastic access card
How can I begin to say
I feel better off when we stay
In Paris on winter nights
Beneath the snowy veil
Content like a panda bear
Still breathing the fresh mountain air
I'll put on a diving tank
And sing when I inhale
---Owl City - Panda Bear
Di Jum'at Malam---Malam Sabtu yang tidak begitu dingin
Tidak perlu diawali dengan pertanyaan "Apa kabar" kan setiap kali menulis surat? :D
Baru saja kamu bilang sudah lebih dulu mengantuk dan ingin beranjak bermimpi lebih dulu, ya lewat pesan singkat di handphone selagi saya mendengar alunan Owl City di laptop acakadut saya. Namun anehnya saya belum mengantuk sama sekali, padahal saya seharusnya sudah beristirahat dan kembali menyulam benang alam bawah sadar. Mungkin terlalu banyak tidur kali ya, ah mungkin saja. Padahal saya masih dalam tahap awal massa pemulihan dari virus yang menyerang saya minggu kemarin, Campak Jerman alias Morbili.
Saya yang tidak cukup bisa menahan emosi dalam menghadapi suatu cobaan, dinetralkan oleh kamu, yang sangat sabar dan menunjukkan kepada saya bahwa tidak ada gunanya marah-marah.
Kamu tahu? Saya takut kamu ninggalin saya gara-gara kemarin saya terbaring karena satu penyakit itu. Terdengar konyol atau entah apa lah itu, tapi saat fisik saya mulai berubah dan kondisinya tidak lagi nyaman dilihat, nyatanya kamu masih mau bertemu dan menunggui saya walaupun saya sakit dan tidak banyak berbicara. Mungkin bisa dibilang kamu hanya membuang waktu menemani saya. Tapi kamu tahu, itu yang membuat saya makin yakin sama kamu. Bahwa hubungan kita memang terbentuk bukan karena ketertarikan fisik semata, toh buktinya saat saya super jelek dan tidak sisiran seminggu pun kamu masih mau bertemu saya.
Saya sudah cek lewat browsing sana-sini. virus yang menyerang saya itu menular. Dan kamu pun tahu itu. Saat semua yang menjenguk saya menjaga jarak dan bertanya-tanya akankah menulari mereka, kamu malah foto-foto sama saya dari jarak yang sangat dekat. Jujur, saat itu saya takut banget kamu ketularan. Mungkin kamu juga ada perasaan takut tertular, tapi terimakasih dengan tidak menunjukkannya kepada saya yang masih dalam kondisi rapuh ini :D
Kebayang kan kalau ada orang sakit tapi pacarnya engga mau jenguk karena takut ketularan dan malah menjauh? sakit pasti rasanya. Terimakasih sayang, kamu rela menghabiskan waktu kamu menjaga dan menemani saya di rumah (saat demam saya sedang tinggi-tingginya) dan saat saya dirawat di rumah sakit. Kamu ingat betapa tidak rapinya penampilan saya saat itu? Dengan baju seadanya. Tanpa make up, tanpa berdandan. Murni penampilan saya apa adanya. kalau orang lain yang lihat mungkin langsung ilfeel dan enggan bertemu saya lagi. Apalagi dengan ruam-ruam merah disekujur badan saya yang membuat saya gatal ingin menggaruknya sampai akhirnya muka saya megar-megar (mengelupas) karena sudah melewati tahap demam yang tinggi. Sempat ragu mengizinkanmu menjenguk saya di ruang RGB lantai 2 no 208 itu, Yang ada dibayangan saya kamu langsung pingsan dan lari ketakutan waktu liat saya. Tapi terimakasih, sekali lagi, karena menerima saya apa adanya saat sehat dan sakit. Kehadiran kamu cukup meringankan orang tua saya yang engga tau harus minta bantuan siapa lagi.
Diantara semua hal yang kamu lakukan waktu saya sakit, Saya paling inget: terlalu sering mengingatkan kamu cuci tangan. Jangan lupa cuci tangan yang bersih sebelum ngapa-ngapain. Nah, kamu suka paling males kan ngelakuin yang satu ini? Padahal kamu sendiri tahu cuci tangan itu penting. Tapi coba sayang.. jangan disepelekan ya. Saya cuma engga mau kamu sakit---kayak saya.
Nah satu lagi, pake sendal. Kalau habis dari kamar mandi atau cuci tangan kenapa sih suka lupa pake sendal? Takutnya ituloh di kamar mandi kan engga sebersih penglihatan kita. Ada ini itu, nah kalau pake sendal kan setidaknya bisa memperkecil kemungkinan ditempeli bakteri atau sebangsanya... hiiiiii takut kan? :p makanya jangan lupa pake sendal kalau mau ke kamar mandi dan jangan lupa cuci tangan sebelum ngapa-ngapain.
Makasih atas semua perhatian yang kamu kasih. Predikat orang tersabar emang engga salah kalau dikasihin ke kamu , My Panda Bear :)
Big Hug and Kiss ♥

Paramuda 93,7 FM : Semoga Menjadi Rumah Ke-2
Menjadi seorang penyiar, adalah salah satu cita-cita saya dari dulu. Wawasan luas, begitu pula dengan link dimana-mana--pergaulan luas dan akhirnya teman pun banyak. Sampai pada akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk mengikuti audisi penyiar "Siapa Kamu" di salah satu radio "paling gaul dan number 1 di Bandung" pada saat itu---2006, saat saya kelas satu SMA. Siapa yang engga penasaran dan menolak untuk ikut kesempatan seperti itu? Otomatis saya pun ikutan audisinya di sekolah, dan gagal. Saya tidak terpilih untuk siaran pagi-pagi (alias subuh) mewakili sekolah saya mengudara di Radio terkenal di Bandung tersebut.
Saya cukup nyesek (dikit) waktu engga kepilih, tapi saya juga miikir, karena saya masih belum punya skill apa-apa. Tapi waktu itu saya punya pandangan, "Lah, ngomong kayak gitu doang, cuap-cuap, apa susahnya? Terus tinggal bacain request dan masang lagu..." jadi lah penyiar radio.
Suatu hari di saat istirahat sekolah, seorang teman mendatangi saya dan mengajak untuk ikut bergabung di broadcasting school, katanya sekolah ini udah terkenal banget di Bandung dan berhasil mencetak penyiar-penyiar oke. Setengah meminta izin kepada orang tua, saya pun akhirnya ikutan. Apalagi berkesempatan bisa dapet in-house-training yang dibimbing sama salah satu penyiar favorite saya plus ganteng pula saat itu, Theo. Otomatis saya seneng. Nah, Ilmu-ilmu baru mulai saya dapetin. Waaupun saya cuma beberapa minggu di sana. Dan setelah proses trainiing, saya dan teman saya dapet kesempatan buat magang di radio kampus salah satu Institut teknologi di Bandung--yang ada di daerah jalan PHH Mustofa. Meskipun "hanya" radio kampus dan belum tentu ada yang dengerin, saya dan teman saya tetap semangat, walaupun suasana di kampusnya itu sepi banget, walaupun lagi jaraknya yang jauh dari rumah dan sekolah (saat itu saya beranggapan dari Arcamanik ke PHH Mustofa itu jauh), dan walaupun lagi yang terakhir, saya harus mau nabung buat ngeganti ongkos pulang-pergi ke sana. Karena motto saya dari dulu, kalau mau apa-apa harus usaha sendiri da jangan nyusahin orang tua. Dan orangtua saya yang ngajarin itu, supaya saya engga jadi orang yang bisanya cuma "minta" tanpa mau berusaha sendiri. Tapi sayangnya, magang di radio kampus ini engga lama.punya pengalaman jadi announcer dan scriptwriter di sini pun saya senang sekali. Padahal Cuma sampai beberapa minggu di tahun 2007. Mungkin karena terhambat kendala tugas dan kesibukan di sekolah serta kondisi badan yang mulai merana.
Sejak saat itu, keinginan saya mulai pudar. Apalagi ditambah "tiada dukungan" dari sang pacar saat itu (sekarang udah jadi mantan yaaa tolong :p), dia bilang, "Kalau kamu nanti jadi penyiar terus sibuk di sana-di sini terus nanti penggemarnya banyak, aku gak suka." HELLO, dan saya saat itu berpikir, yasudahlah, daripada bikin cemburu juga. Jadi saya engga lagi punya ambisi buat punya kegiatan yang berkaitan dengan broadcasting. Padahal saat itu saya ingin sekali membuat ekstrakulikuler radio sekolah di SMA saya. bayangkan, pasti jadi anak yang paling eksis dan temen-temennya di mana-mana. Seenggaknya itu yang saya pikirin (saat itu). Ya, pikiran anak muda yang beranjak dewasa, bakalan keren kayaknya kalau suara kita didengerin seantero sekolah. Pasti banyak juga yang mau ikutan. Tapi sayangnya, hal itu hanya menjadi wacana. Sampai sekarang engga pernah terwujud.
Sampai sekarang tahun 2011.
sampai sekarang saya udah kuliah.
Sampai sekarang saya udah punya kesempatan training di salah satu radio terkemuka di Bandung.
APA? COBA ULANGI???
---
Alhamdulillah, setelah beberapa tahun "desire" untuk berkecimpung di dunia broadcast sempet terkubur dan engga kepikiran sama sekali, akhirnya sejak beberapa bulan ke belakang saya punya kesempatan untuk meraih apa yang saya sangat inginkan di tahun 2006. Tanpa orang yang melarang saya untuk terus berkembang.
Di akhir bulan Juli atau sekitar awal agustus (tepatnya saya lupa), seorang "kakak" di dunia maya ngesms saya dan bilang kalau ada lowongan buat penyiar baru di Radio Paramuda. Saya kurang "pede" karena saya "masih kosong dan engga punya apa-apa". Terus saya denger iklannya juga, plus info dari teman yang lain. Saya masih ragu sampai akhirnya akhir bulan pun datang dan saya tidak berbuat apa-apa untuk membuat CV untuk dikirimkan, tempatnya saja saya engga tahu. Terus saya cuma sendirian. Tapi akhirnya si "kakak" bilang, "Ayo piwww cepetan mana CVnya udah mau akhir Agustus ini, deadline pengirimannya loh." Karena saya tidak tahu harus ngirim kemana, dan si "kakak" sangat berbaik hati, akhirnya kita ketemu di tanggal 29 depan Borma Dago. Dengan CV seadanya, itulah pertemuan saya dengan seseorang yang telah sangat berjasa mengenalkan saya pada Paramuda lewat titipan CV dan surat lamaran, meskipun mungkin kenyataannya dia tidak hanya membantu saya. Tapi saya sangat bersyukur sekali bisa kenal dan bertemu Kak Fajar Zulfikar. dan itulah pertemuan pertama kami setelah kenal lebih dari setahun yang cuma komunikasi lewat social networking dan sms, sekitar sejak awal 2009 waktu saya masih SMA kelas 3.
Saya tidak berharap banyak bisa lolos CV dan masuk interview. Tapi akhirnya saya dapet panggilan buat interview di hari Minggu pagi di Bulan September. Saya masih tenang, belum tau sama sekali tentan pertanyaan interview yang akan diajukan. Tapi deg-degan luar biasanya baru saya rasain pas face-to-face sama interviewer. Buset, saya ke beberapa pos. Dari sekitar jam 2 kedatangan saya di kantor Paramuda, saya baru di interview magrib-magrib selesai dua jam kemudian. Alhasil saya pulang malem. Tapi saya bisa dapet temen-temen baru yang lucunya sifat mereka hampir sama semua, sanguinis :D . Dan yang lucunya lagi, Di Paramuda ini juga saya ketemu sama Ka Angga Depe, yang sebelumnya cuma saya tau di facebook. Dan saya engga mengenali wajahnya, dia nanya, "Kamu temennya Dede kan? Dede Mutiara, saya Depe, di facebook kita udah temenan." Nah lo, saya bingung, sampai akhirnya saya inget-inget dan Lucu sekali :)) senior saya Teh Muti juga ternyata ikutan interview dan baru saling tau pas ketemu di saat interview.
Proses selanjutnya sangat mendebarkan, sekali lagi saya engga berharap banyak karena saingannya juga banyak dan bertalenta semua. Tapi ternyata saya dapat sms buat nge-cek email. Saya lolos 11 besar dan bisa mengikuti training. HOW A GREAT NEWS!!!
Tapi deg-degan tidak berhenti, karena masih ada proses eliminasi perbulannya. Sampai akhirnya cuma tinggal bertujuh, sampai saat ini Bulan Januari 2011. Ternyata pikiran saya sewaktu dulu itu salah banget. Penyiar bukan hanya sekedar cuap-cuap, bacain request dan muterin lagu. TENYATA JAUH DARIPADA ITU. Untuk menjadi penyiar yang berkualitas ternyata diperlukan SKILL ANNOUNCING yang bagus, dan engga bisa instan. Opini saya yang dahulu itu akhirnya terpatahkan oleh proses training di Paramuda 93,7 Fm ini, menjadi seorang announcer itu TIDAK GAMPANG, dan membutuhkan kesabaran serta mental yang kuat untuk melalui proses pembelajaran. Buktinya, setelah berbulan-bulan saya belajar di sini, saya masih merasa skill saya sangat belum cukup pantas untuk On-Air. Beruntung saya bisa ikutan training ini, saya mau belajar, dan mentor saya, Kang Galih AG, bisa melihat keinginan saya untuk terus belajar ini.
Inilah siaran pertama saya tandom dengannya tadi malam, Selasa 4 januari 2011, setelah melalui proses inbox 4 bulan dan mixing on-air dari jam 1-2 malam selama sebulan. Masih banyak yang perlu saya perbaiki, Mulai dari skill ngomong, bridging-punchline, baca sms, perhatiin time-length tune dan yang paling deg-degan itu berhadapan dengan microphone dan mixer yang gede ditambah monitor dan headset yang harus diperhatikan saat penggunaannya kapan. Dan yang paling parah, jangan sampai memotong omongan pasangan tandom, apalagi punchlinenya host-senior T____T Saya masih harus banyak belajar lagi. Termasuk pasang playlist sesuai rundown yang udah disediain, memperkaya pengetahuan musik dan pengetahuan umum lainnya. Rasa grogi dan ragu-ragu harus diilangin semaksimal mungkin!!!!
Kang Galih AG bilang, "Rumah kedua bagi saya adalah Paramuda." Mudah-mudahan Paramuda bisa menjadi rumah kedua bagi saya. Dengan nuansa kekeluargaannya, tali pertemanannya, baik-buruknya, dan apapun itu, saya udah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga buat saya, Entah kalau ada orang yang bilang saya "lebay", tapi emang ini kenyataan yang saya alamin. Diterima atau tidaknya saya nanti menjadi penyiar di sini setelah proses training ini, saya akan terima dengan bahagia walau rasa haru pasti menyertai :)
Beruntung juga ada kehadiran Ihsan Nurul Fauzi, sebagai salah satu orang yang sangat mendukung saya, dan terus menyuport dan membantu saya---walau sangat melelahkan, saya yakin itu. Pagi-Sore-Malam, saya bisa sangat merepotkan, maaf :'(... Makasih pacar, kamu sangat mengerti dengan apa yang saya inginkan dan usahakan. Jika suatu saat saya mendapatkan hasil yang membahagiakan dengan hal ini, kamu tidak lepas dari orang yang berperan penting buat saya.
Semangat dan terus belajar.


white sugar ♥
Sebuah Monolog di Cabang Peraduan
Sebuah monolog dari seseorang berinisial A (yaitu Arini Nadia) yang sedang menemukan sebuah persimpangan baru dimana dia harus terus melaju. Lalu datanglah satu malaikat sayap kanan, berinisial P (Sebut saja dia Pia Zakiyah :D) yang setia berkomentar terhadap peluh yang bercucur deras yang dikeluarkan A. Dan hadir pula, wanita berinisial L (yaitu Lala Malasari) yang menyaksikan keadaan janggal tersebut dengan memasukkan intermezzo bernada asa hati. Inilah mereka dengan pikirannya yang berguman di saat kelas Foundation of Translating berlangsung..
Hari Rabu, pagi hari.
A : Cinta yang sekarang sudah lama terpendam dan terlalu dalam mungkin akan berbekas jika saya buang.
P : Inilah yang disebut konsekuensi cinta.
L : I used to say his name.
A : Bukannya saya menyerah, tapi saya pasrah.
P : Berikanlah sesuatu berdasarkan alasan terhadap keputusan Tuhan, bukan hanya berdasarkan atas apa yang kita inginkan. Di sanalah terletak titik ikhlas.
A : Teman saya pernah berkata, "Kenapa dia tidak mencintai saya?" Saya tersenyum. Saya juga ingin bertanya seperti itu. Tapi saya sudah tahu jawabannya. Karena dia telah mencintai orang lain.
L : Kelopak mata atas kiri ujung saya kedutan terus.
P : Terkadang konsep panah asmara benar-benar menyakitkan. Sekali tertancap, sakitnya bertahan meskipun sudah tercabut. Ada lubang menganga. Mencoba mencintai yang lain memang bukan hal mudah, tetapi ada aturan pasti, proses perlu dinikmati.
@ariedagienkz "Instan itu tidak selamanya baik, tetapi proses itu tidak ada yang mudah."
A : Dalam semua proses tentu terdapat berbagai macam rasa. Tentu akan sempurna jika berakhir indah, sesuai yang diinginkan. Tapi sekali lagi, Bukan kita yang menentukan akhir itu.
P : Tetapi kita berperan penting untuk mencerahkan akhir itu, seperti seorang pemain drama yang mana skenarionya bukanlah kita yang menentukan. Tetapi bagaimana kita menyerap pesan-pesan yang perlu disampaikan. Jadi, tetaplah tersenyum.
A : Saya pasti akan terus tersenyum. Senyum sedikit banyak menghapus duka saya. Jika saya tidak pernah tersenyum setelah ini, bisa anda bayangkan betapa dahsyatnya cinta ini menghancurkan saya?
P : Dengan begitulah D'Masiv terinspirasi, dan lahirlah sebuah lagu yang berjudul "Cinta Ini Membunuhku". Jangan biarkan ia mendahului langkahmu meraih bahagia. #apaini
A : Saya sakit karena cinta ini. Cinta kepada dia. Tapi saya tidak pernah menyalahkan cinta, dia atau siapapun. Karena ini memang takdir saya, jalan hidup saya.
P : Kamu tahu apa yang bisa kamu lakukan, jangan sampai mencoba menghindarinya.
A : Jalan hidup saya memang seperti ini. Terkadang lurus, terkadang menanjak dan berliku. Tapi saya yakin ini seperti sebuah pendakian ke sebuah puncak gunung tertinggi. pengorbanan untuk sebuah pemandangan yang indah.
L : I've tried to say goodbye many times. Tried to erase every single thing of him. Tried to think that he's the one to be blamed, although I don't blame him, in fact. But the worst thing is, I never could say no, when he's coming back even for foolish thing.
P : Begitulah para manusia ini berbicara dengan perasaan. Seakan-akan hanya dia yang pernah merasakan hal tersebut. Kamu tidak sendiri. Semua orang pasti memiliki siklusnya masing-masing. Maka, jalani dan nikmatilah sampai masa itu tiba. Hanya waktu yang berbicara. Dan bagaimana kita setia mendengarnya.
Melihat panah, melesat di udara. Untuk mereka yang berani menancapkannya. Karena cinta bukan untuk mereka yang hanya ingin bahagia, tetapi bersedia dengan tanggungan resikonya.
White Sugar dengan sesuatu menyalip pikirannya.
A Blessing Place
The Appetite : A Passion

Aktivitas benar-benar berpengaruh terhadap pola makan. Bukan-bukan. Pikiran yang sangat mempengaruhi pola makan. Apa perlu saya makan otak saya (yang menyimpan berjuta pikiran saya) supaya saya bisa ingat jadwal makan? Eh, bukan. Supaya saya mau mengikuti jadwal makan, maksudnya.
Dari kecil sampe SMA saya engga pernah ketinggalan yang namanya sarapan. Mau itu telat, pasti sarapan. Engga sempet sarapan bukan berarti engga sempet disuapin mama. Tapi kalau emang engga sempet disuapin Mama, bawa bekal makanan ke sekolah pun jadi kebiasaan. Bisa dimakan langsung di kelas (tanpa ketauan guru, tentunya) ataupun waktu jam istirahat. Serba banyak jalan menuju Roma. Soalnya kalau engga makan pagi ngefek banget sama kondisi badan. Tapi entah kenapa semenjak masuk kuliah kok gampang banget ya engga sarapan, dan engga ngefek apa-apa.
Bahkan semenjak kuliah, lapar bisa ditahan. Satu hari satu kali makan bisa jadi kebiasaan. Tapi herannya, badan ngembang--- Aneh bukan. Padahal kegiatan berjibun, makan pun jarang, cukup jadi satu hal yang fenomenal #halah. Cuma, sekarang-sekarang udah mulai ga bisa ke-kontrol. Makan apapun jadi dan tidak toleransi terhadap perut. Engga makan nasi seharian bisa, tapi diganti sama yang jahat-jahat. Contohnya kemarin, saya lupa makan nasi. Tapi makan nugget-kentang goreng-baso malang-mie aceh dengan porsi super pedas. Sehari sebelumnya juga makan yang pedas-pedas. Sehari sebelumnya juga...sehari sebelumnya juga... ya... sedari dulu saya engga bisa stop sama yang namanya pedas, semacam udah jadi satu hal yang ngedarah daging gitu deh. :D
Efek? Sakit perut seharian. Guling-guling dan bolak-balik kamar mandi (yang tentunya bukan buat mandi :p ) Padahal saya udah tau resiko beginian, tapi kenapa masih tetep dilakuin ya? Apalagi dilakuin saat perut engga cukup menyerap makanan yang ada gizinya. Ah... mudah-mudahan aja tabiat buruk saya berubah gara-gara yang perhatiannya nambah, kayak yang satu ini. Si lelaki muka datar dengan sifat altruismenya (perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri/tindakan berkorban untuk menyejahterakan orang lain tanpa menghiraukan balasan sosial maupun materi bagi dirinya sendiri), alias si Pacar dengan kesediannya menjadi Dokter Nutrisi buat saya :D. Begini katanya:
1. Makan pagi ga wajib. Tapi klo mau, makan makanan yang mengandung protein saja.
2. Makan siang usahain yang mengandung karbohidrat. Klo setelah makan ada aktifitas, porsinya dikurangin.
3. Oh iya, makan siang hukumnya wajib.
4. Makan malem dianjurkan buah/jus aja. Tapi terserahlah, bebas. Asal jangan makan makanan berlemak. Soalnya mau tidur.
5. Jangan makan makanan yang terlalu pedes. Apalagi dipagi hari.
6. Jangan lupa makan yang berserat juga. Biar lancar..
7. Bagusnya puasa senen kamis. *ajak2 klo mau puasa*
8. Sering2 makan bareng urang. Biar romantis. #hehe
*hasil kutipan dari twitternya dia.
Ya.. dulu yang ngingetin cuma orangtua. Mungkin mereka udah kewalahan sama anaknya yang bandel dan ngeyel ini. Mudah-mudahan pola makan ini membaik dan bisa makan makanan yang bergizi lagi.
Ah, apa mungking nafsu makan seringkali menghilang gara-gara udah jarang makan masakan mama? :'(
Red Guava sedang lapar.
pict from deviantart.com
Smiley Sunday
It was a shiny, hot and tired Sunday. Just like mine, which melted whenever with you. Below the cruel sunlight, I thought that I would be unsconcious, but I was not.
Thanks God for your blessing days--for everything, I really enjoy mine :'>
*Red Guava is smiling*
The Rain Goes..
Leaves are touched by the hand of water. There is a handful someone, you, make me warm :)
Sorry for yesterday,, there will always be a conversation for taking next steps, to solve the wedge, right? In case, not to get the misunderstanding thing :)
Red Guava is happy
For the Thing That Should Be..
I'm sorry baby for my sensitifity. Lets make it up tomorrow. Tonight, I just want to be like this. For a while.
White Sugar
written by




