Tampilkan postingan dengan label pendapat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendapat. Tampilkan semua postingan
3

Pria dan Popok


Keponakan bisa jadi teman bermain yang mengagumkan, penuh daya imajinasi dan menyenangkan. Tapi kalau harus disuruh milih ngepel rumah dan mengganti popok, saya lebih memilih yang pertama. Masalahnya, keponakan yang umurnya udah lumayan "dalam masa aktif" ini susah sekali untuk diminta diam saat kita mengganti popok mereka, bisa-bisa dia buang air lagi dan membuat kacau kemana-mana :D *masih belum berpengalaman*

Tapi sekarang ini saya tidak akan menceritakan keponakan dan popok. Tetapi ada suatu proverb yang berkaitan dengan "mengganti popok" :D

"You can't change a man. Unless he's in diapers." -Mary Bennett
Saya tidak tahu kalau kenyatan pria tidak bisa berubah, atau bisa berubah. Tetapi quotes ini bisa menimbulkan dua sisi yang berbeda dalam pikiran saya.

Pertama.

Saya tidak setuju ketika pria ternyata memang tidak bisa berubah. Mungkin benar, jika kita tidak bisa "merubah" mereka karena mereka memiliki jalan pikirannya sendiri dan semacam "terlalu egois" jika kita ingin memaksa merubah mereka. Tetapi, jika perubahan itu memang diperlukan dan pria tersebut tidak memiliki kesadaran untuk merubahnya sendiri??? Apakah harus kita menunggu dia sadar sendiri??? Lalu apa fungsi orang-orang sekitarnya??? Menurut saya, hal-hal yang kita bisa beritahukan sebagai faktor untuk dilakukannya perubahan itu bisa menjadi salah satu perhatian yang bisa kita berikan kepada pria. Jadi, ketika pria tidak sadar apakah mereka harus berubah atau tidak, di sanalah peran kita diperlukan. Tapi kalau prianya tidak pernah sadar untuk berubah, naas ya (-__-")

Kedua.

Pendapat yang berlawanan dengan yang sebelumnya, saya setuju kalau ternyata kita tidak bisa merubah pria. Seberapa besar pun usaha kita untuk merubahnya jika mereka tidak mau dan tidak berniat berubah, usaha kita akan sia-sia. Ya, kita perlu membantu menyadarkan pria, tetapi pria juga perlu membantu dirinya sendiri untuk berubah.

Perlunya berubah yang saya maksud di sini, adalah berubah untuk lebih baik lagi. Jika memang diperlukan untuk berubah, berubahlah. Jika sudah baik, berubahlah lagi untuk lebih baik lagi. Untuk apa jika kita ingin berubah ke arah yang lebih buruk? Itu sama saja kita lebih bodoh daripada keledai.

Selain pria, tentunya wanita pun harus bisa melakukan apa yang dituntutnya. Ya, sayangnya pria tidak lebih mau untuk membantu menyadarkan wanita ketika wanita itu tidar sadar apa yang harus dirubahnya.


Double Steak: Antara Enak, Murah, dan Naas

Makanan enak emang udah pasti banyak di Bandung.. tapi makanan yang enak dan murah.. nah.. (banyak juga sih :D) tapi, pernah gak, kamu gak suka dateng ke suatu tempat, kamu cela, tapi akhirnya kamu dateng lagi ke tempat itu, terus jatuh cinta sama rasanya?

I do.

Jadi ceritanya tuh dulu saya pernah ke suatu cafe, tempat makan di daerah Jalan Jawa di malam Minggu pertama saya sepanjang hidup. Sekitar awal kelas 2 SMA lah. Waktu itu saya dapet nonton gratis From Bandung With Love dari Kartu AS plus meet and greet sama artisnya di Empire BIP. Karena biasanya gak diijinin keluar rumah malem-malem di malam Minggu, maka saya minta ijin orang tua saya dengan alasan "sayang kalau dibiarkan begitu saja" si nonton gratisnya. Alhasil diijinin dan pulangnya (dalam keadaan cape dan lapar) saya ke suatu tempat yang sangat direkomendasikan sahabat saya, Double Steak.

Saya harus sabar nunggu makanannya, lama banget. Bangke abis. Emang sih sahabat saya udah ngingetin ke saya kalau nunggu orderan datangnya tuh emang lama. Tapi kirain gak selama itu. Untung aja makanannya enak. Enak, ya beneran enak. Kalau gak salah sih waktu saya pesen makanan ini:

Double Sirloin Steak dengan saus barbeque

Minumannya antara Fruit Punch dan Tropic Punch. Entah yang mana tapi enak banget. Tapi sayangnya semenjak saat itu saya gak pernah lagi dateng ke situ. Sampai di hari Minggu (2 Januari 2011) kemaren saya ke situ lagi dan pesen Double Beef Bolognese plus Blackberry Juice. Wuihhhh mantep dah! Ternyata dengan harga yang relatif murah dibanding steak di cafe lain, di sini bisa dapet rasa yang oke punya. Saya suka Blackpepper, dan saus yang membanjiri daging lezatnya pun nusuk-nusuk dilidah dengan rasanya yang kuat. Rempah-rempah banget!

Konyolnya lagi, saya kesana lagi dua hari kemudian (Selasa 4 Januari 2011).

Entah karena apa saya langsung pengen lagi. Tapi tragedi menyertai, udah pesenannya lama, customer servicenya naas abis deh, pengunjung gak dapet atensi yang ramah dari owner. dan sekali lagi, makanan datengnya telat. Udah gitu, saya yang asalnya pesenannya sama kayak waktu hari Minggu, eh salah dateng. pas udah dimakan pasta bolognesenya, baru ketahuan kalo dagingnya bukan beef, tapi chicken -,-" naas bukan? Tapi untungnya saya pesen vegetable cream soup. Seriusan, cream soup yang ini juga juara!

Mudah-mudahan Double Steak bisa memperbaiki kualitas pelayanan terhadap konsumennya, sayang loh padahal makanannya enak-enak!! Juara deh! tempatnya juga oke, cuma kurang luas aja dan engga ada kursi khusus buat couple. jadi kalo ada couple yang datang duduk di kursi kuota 4 orang, alhasil kursi yang 2 laginya gak kepake. Sayang banget... So far, saya rekomendasiin tempat ini kalau mau steak enak harga juga enak :)


Ini dia beberapa pictures of Double Steak :



Sekarang harganya naik Rp. 1000,-


Double Steak
Jl. Jawa, Bandung
Jl. Burangrang, Bandung
Range harga: Rp 10.000 - Rp 30.000,00


P.S. : karena saya gak motoin makannya, alhasil saya pake sumber gambar dari di bawah ini. Lain kali ingatkan saya untuk memfoto makannya ya :)

sumber satu
sumber dua
sumber tiga
sumber empat

Beruntung ada Om Google. Thanks Om.










Red Guava ♥

0

Hubungan Jalan Layang Pasupati dengan Pempek


Mengerjakan tugas memang udah jadi kewajiban mahasiswa ya, tapi kalau terus-terusan juga kok rasanya mumet di otak. Semacam pegel mata, tangan dan pikiran seharian di rumah depan laptop. Tapi untungnya si pacar ngajakin keluar, pengen makan keluar bareng malemnya. Tapi ternyata jadinya sorean, soalnya engga mau ketinggalan Indonesia di final AFF versus Malaysia jam 7 malem!

Tapi sialnya lagi, pas keluar rumah dan mulai naik jalan layang Pasupati, keadaannya jadi begini:


Di atas jalan layang ini hawanya jadi sesek gara-gara penuh sama kendaraan. Dan saya pikir cukup mengkhawatirkan. Takut banget nanti tiba-tiba retak atau runtuh akibat over kuota kendaraan yang harusnya cuma melintas di flyover. Dan ternyata, salah satu jalur yang turun ke arah dago emang udah ada yang retak sekitar 20 cm. BUSET. Bener-bener bikin deg-degan. Rasanya pengen cepet turun dan keluar dari jalur yang macet ini. Tindakan melanggar peraturan pun banyak dilakukan orang-orang. Jalan yang dari arah Cihampelas (yang harusnya jadi jalur naik kendaraan) malah jadi jalan buat kendaraan yang muter balik dan turun dari flyover. Naas, dan tanpa polisi. Otomatis "Pak Ogah" dadakan pun ngatur lalu lintas sekitaran situ.


Mohon tindakan lebih lanjut buat aparat keamanan, selain perawatan jalan layang yang wajib dilakukan (emangnya lo mau jembatannya retak-retak gitu?? gue ogahhh!) soalnya Flyover Pasupati ini udah jadi semacam jantung dan icon yang membantu mobilitas orang Bandung khususnya. Tapi saya heran, tumben-tumbennya jalan layang ini penuh banget, apa mungkin gara-gara jam habis kerja dan pada buru-buru pulang pengen nonton Final AFF yak?

Syukur bisa keluar dari flyover secepatnya dan cari makan. Saya kirain ni pacar mau ngajak makan dimanaaaa gitu. Soalnya pas ngobrol ditellpon waktu siang saya tanya mau makan dimana, eh dia jawabnya, "Ada deh, gimana nanti." Gimana gak mikir ada apa-apa ya? Ternyata ni anak pengen makan cuanki atau pempek. Katanya makan malem? --,--"

Pilihannya cuma 2, Cuanki Serayu atau Pempek Pak Raden. Dan karena saya lagi pengen makan pempek, Dipati ukur lah tujuan kami berikutnya. Kalau masih kuat ya nanti lanjut ke Cuanki Serayu.... :D

Menurut saya pempek pak raden ini tidak seheboh yang dibicarakan orang-orang. Rasanya flat dan kurang nendang. Engga pedes dan hambar. Entah kenapa. Atau mungkin gara-gara belinya yang di jalan Dipati Ukur? Ah entahlah, lain kali saya coba lagi. Tapi harus enak. Kadar enak pempek buat saya adalah yang ikannya kerasa, porsinya bikin kenyang, DAN BUMBUNYA HARUS PEDASSSSS!

Saya engga sempet dan engga keingetan ngambil foto sample makanannya. nah saya comot dari sini nih atas bantuan Om Google dengan keywords : Pempek Pak Raden bandung. Kira-kira beginilah si Pempek Pak Raden ini..



*Sebenernya gambarnya jauh lebih bagus daripada tampilan yang disuguhkan ke saya saat berjunjung mencicipi makanan ini :p

Mungkin gara-gara nyomot dari web kali ya. Nanti saya bakalan inget deh buat ngambil gambar sendiri. :)








Red Sugar ♥



0

Semangat dan Kreativitas

"Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu

Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya

Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja

Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua"

---Bang Rhoma Irama---


**

Jum’at pagi yang menyegarkan, apalagi pagi-pagi sudah makan bubur bersama pacar dan menikmati pemandangan yang unik. Ya, unik. Saya melihat satu gerombolan lelaki yang nyanyiin lagu Bang Rhoma (as I mentioned before..) sambil pake kostum tradisional plus diiringi angklung dan tabuhan tong. Kreatif, langsung melintas di pikiran saya. Bukan cara pengamen biasa menghibur orang dengan gitar ataupun kecrekan yang sudah umum.

Saya jadi malu. Kadang saya suka males dan uring-uringan sendiri kalau pagi-pagi. Dan sok ngerasa paling kurang beruntung dan kurang semangat kalau pagi-pagi udah menghadapi jadwal banyak aktivitas yang harus dihadapin. Tapi, orang lain, dengan keterbatasan yang mereka miliki, mampu memaksimalkan kreativitas dan mencari nafkah di pagi hari.

*terasa tertampar*

Selebihnya, selain memakan bubur sambil menahan rasa tamparan di hati, lirik Bang Rhoma beserta alunan melodinya cukup bikin saya terharu. Ah.


White Sugar is mellow.


2

Panda, Memang Terancam

Seorang teman (baca: Tsara Desiana Akmilia) tiba-tiba memberikan National Geographic Vol. 169 No 3 March 1986 yang habis dia baca (atau mungkin hanya buka-buka saja :D). Saya tercengang dan... inilah salah satu main issue yang menarik saya.







Miris, dan sedih :(

Ternyata bukan jaman sekarang aja, tapi dari jaman dulu, salah satu binatang langka ini udah mengalami kesengsaraan hidup.. Gak heran kalau jumlah panda sekarang ini sangat menghawatirkan.

Terdapat lebih dari 300 ekor Panda di suluruh dunia saat ini. Jumlah ini diyakini cukup untuk menjaga kesehatan genetis mereka.
sumber :

Saya gak tega, tapi saya gak bisa ngelakuin apa-apa.
Saya pengen ngelakuin sesuatu, tapi saya gak tahu harus gimana.
Saya mikir, tapi ide gak dateng-dateng.


Semoga panda mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.

White Sugar
0

Pesan Dari Burung Hantu

Menyeramkan, sepertinya jauh dari deskripsi untuk yang satu ini. Imut-imut, lucu dan memberi pesan moral yang kuat lebih mencerminkannya. Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole (2010) menjadi kemasan yang menarik buat tontonan di saat jadwal memadat. *aih*



Kehidupan burung hantu ternyata menarik juga, mulai dari peperangan dan bagaimana mereka bertingkah. Di film ini, perilaku mereka ditampilkan engga jauh dari manusia. Ada yang jahat dan ada yang baik. Ada pembalasan untuk sesuatu hal yang dianggap menyakitkan dan menyenangkan. Ada timbal balik dari semua usaha yang dilakuin.

Saya jadi makin berimajinasi, gimana kalo mereka bener-bener bertingkah kayak manusia.

skip.

Jadi, dari acara nonton bareng anak-anak Kompas tadi itu ada quotes yang menarik buat saya, salah satunya :

Bukan berarti kamu tak melihat, hal itu tak nyata.


*kalo engga salah sih gitu, maklum, liat subtitle waktu itu :D

salah duanya :

Dreams are who we are.


Mulai saat ini, saya mencoba engga bakalan ragu buat bermimpi tentang apa yang saya ingin dapatkan suatu hari nanti.

By The Way, sahabat saya Vinda Dwi Oktavianda lagi ulang tahun hari ini. Pengen banget ngucapin, tapi pengennya langsung. Mudah-mudahan secepetnya bisa ketemu langsung.

HAPPY BIRTHDAY VINDA :*

:)

Red Guava
0

[REVIEW] Marmut Merah Jambu



Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Raditya Dika


Saya termasuk orang yang pilih-pilih buku buat dibeli, berpikir matang, menimbang harga dan bukunya tentunya. Cocok, ya langsung ambil. Tapi kebanyakan buku yang saya beli justru berakhir di lemari dan belum tersentuh halaman tengahnya, seperti nasib novel Dan Brown yang terakhir. Untungnya saya engga pernah diomelin orangtua kalau duit jajan habis gara-gara beli buku, mereka pun engga ngomel kalaupun engga dibaca. Ya gimana mau ngomel, orang buku-buku saya semua (diluar buku pelajaran) saya beli pake tabungan sendiri.. hehe. Buku yang paling membekas dipikiran saya yaitu seri terakhir Harry Potter, yang diberikan sebagai kado ulangtahun saya berbarengan dengan release bukunya, ehm, oleh salah seorang orang yang pernah mengisi hati. Selepas putus, menguap pula isi bukunya. Huahahaha….

Tentang cinta. Raditya Dika kali ini mengangkat tema cinta lagi untuk buku ke-limanya. (Engga tau juga sih buku-buku sebelumnya bahas apaan, saya belum beres baca, hihi sorry Raditya Dika). Yang pasti, beberapa tahun lalu, salah satu sahabat saya lari-lari sambil kecipirit dan bilang, “Pi, lo harus baca buku ini. Keren banget deh. Ngakak abis! Tau Raditya Dika kan?” dengan simplenya saya jawab, enggak. Abis itu saya ditendang sahabat saya dan baru tau cerita novel pertamanya itu tahun lalu, pas muncul dibioskop, yes I watched it. Ceritanya tentang cerita manusia dan sepertinya saya juga pernah ngerasain di beberapa posisi yang sama. Sayangnya filmnya engga memuaskan. Ehm.

Back to the topic, saya engga tau ini review macam apa. Bukan novel, jadi saya bingung kalau harus nyeritain sinopsisnya. Tapi buku kayak gini yang saya suka, per-part beda cerita, jadi engga bingung. Overall ceritanya renyah dan “remaja banget”, bisa dibilang juga agak-agak “gue banget” buat pembaca yang pernah ngalamin. Saya yakin sebagian besar dari pembaca buku non-fiksi komedi ini pernah ngerasain beberapa kejadin serupa, yang sayangnya naas untuk diingat. Hehe.

Dika memulai dari pengalamannya yang cerita tentang Jatuh Cinta Diam-diam, dimana dia dan sahabat sebangkunya memendam rasa yang sulit diungkapkan sewaktu SMP, yang jatohnya malah bikin norak. But I’d fun here. Mirip-mirip cerita saya juga (heh! malah #curcol) . Belum lagi pengalaman dia yang jadi detektif di sekolah (pertama dan terakhir kalinya) di Misteri Surat Cinta Ketua OSIS, ngejelasin banget gimana rasanya jatuh cinta bisa terkesan jahat dimata orang, padahal belum tentu dengan posisi kita. Balada Sunatan Edgar pernah saya baca di blognya dia, dan di buku ini mengalami renovasi yang lumayan, tapi bikin cerita si Dikanya sendiri terhimpit, alias dikit.

Cerita terpendamnya yang aneh ada pada Pertemuan Pertama & Terakhir dengan Ina Mangunkusumo, yang bikin saya nyengir-nyengir sendiri seolah saya bilang, Atau “Ih, iya banget.”“Ih, iya! Gitu tuh gitu!”. Intinya sih lumayan dunia manusia banget. Berlanjut di chapter Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari dan Surat Kepada Menteri Perdagangan, I really enjoyed those parts. Dan tulisannya tentang pembuatan filmnya dulu ada dijelasin di buku ini. Selanjutnya? Adalah tentang pacarnya (saat Dika menulis buku ini, yang saya tahu sekarang mereka putus) dan saya baru tahu siapa Shero setelah membaca beberapa halaman (telat nyadar). Lumayan so sweet, tapi kurang nendang, engga kayak dia nyeritain si Ina Mangunkusumo. Sesi agak boring dimulai di Buku Harian Alfa, walaupun saya ngikik juga sih di sini. 2 BAB hampir terakhir, yaitu Cinta di Atas Sepotong Chatting + Dabel Trabel, lumayan mellow dan agak touching. Kalau saya engga salah inget sih saya engga ketawa di sini, tapi saya mikir. Last Chapter, Marmut Merah Jambu, menjadi penutup yang sounds so romantic and mellow, ngejelasin kenapa dia ngambil Marmut—Merah Jambu pula buat bukunya ini. Total ada 14 chapters (udah plus Pengantar Penulis).

Dua tahun waktu yang cukup lama buat Dika nulis buku ini, belum lagi kepentok pembuatan filmnya dia tahun lalu. Tapi dengan harga IDR 39500, cukup worthed. (FYI, kalau pake Kartu Club Baca Kompas Disc 10% di Gramedia manapun, kalau ke Rumah Buku Bandung disc 30%). Saya menemukan satu ketikan gagal di halaman 193, editor melewatkan yang satu ini, di paragraph ke-6, ada kalimat “……..eneg sama cowok yang ikutan Mirc hanya untuk nyari pacar, padahal… itu gue banget. Di juga bilang jarang ada cowok yang ….” Di di situ mungkin mau ngetik “Dia” ya Bang Dika???

Kalau pengen komen negatif buku ini : Dika terlihat ingin memaksakan beberapa barang dan tempat terkenal masuk di dalamnya, jadinya terkesan pamer dan pamer, mulai dari Blackberry, Itunes, Kucing Elit dan makanannya, serta Starbucks. But that’s proper with his own life. Tapi saya lebih suka komen positif buat buku ini : Berbagi cinta, dan kenangan tentang cinta, mulai dari naksir-naksiran sampai bisa jadian. Hidup banget.

Prinsip saya, kalau beli buku dari duit sendiri itu harus dinikmatin dan sebisa mungkin engga mikir negatif duluan supaya kita engga nyesel, karena nyesel itu menyakitkan.  Berhubung mood saya lagi pas, jadi saya bisa masuk sama crunchy-wordsnya Dika. Mungkin bakalan beda komen kalau saya lagi engga mood baca. Bisa jadi kayak Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus dan Babi Ngesot yang enggak pernah kelar saya baca karena saya mikir “garing duluan”. Nikmatin aja, jangan berekspektasi berlebih. Overall, menghibur dan bikin terharu. Salut buat Dika, terus berkarya ya!

"Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian."

"Apa yang salah dari orang yang terlalu dalam sayang sama orang lain?"

"Karena luka hati, terutama saat tidak bisa dijahit, bisa jadi tidak akan pernah kering."

"Nothing takes the flavor out of peanut butter quite like unrequites love---Charlie Brown"

"Bagaimana semesta bisa berkonspirasi hingga dua orang bisa actually ketemu memang mendekati keajaiban"

"Cinta mungkin buta, tapi kadang, untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas, kita hanya butuh kacamata yang pas."


,
GGG

P.S. : Gambar dari webnya Raditya Dika langsung.
6

Mereka Tidak Malu Lagi : MBA

Sebelumnya, buat yang mikir saya ceramah atau apa, terserah deh. Buat yang engga suka atau tersinggung, lebih baik engga usah dibaca.

Usia muda dan ya, pantes lah kalau dibilang labil, atau hmm---ababil. Pikirannya bisa engga sinkron dan kurang dewasa. Melakukan sesuatu tanpa pikir panjang dan belum tentu berani ngambil resiko. Oh, apakah cerminan anak muda jaman sekarang itu emang harus gitu ya?

SEDIH. SESEK.

OH TIDAK!

PLEASE!

Entah kenapa saya yang ngerasa dunia ini akan baik-baik aja seterusnya selama saya hidup, ternyata tidak. Saya ternyata ketemu juga sama fenomena-fenomena tingkah laku manusia yang cuma saya tahu sebelumnya di sinetron-sinetron atau film-film. Saya kira lingkungan yang orang lain bicarakan ---berbahaya-- itu engga bakalan saya temuin. But then... I finally found it. Sedikit demi sedikit "bahaya" dari lingkungan itu sendiri bisa saya temuin indikasinya. Semula saya mengira hal itu adalah hal yang WAW, tapi saya sekarang sih bener-bener ngira hal itu emang hal yang WAW.

Pergaulan bebas jadi salah satu contohnya. Ya, kalau mama dan ayah saya bawel "kamu kalau kemana-mana hati-hati. orangtua khawatir." atau "Jaga diri, jangan sampai ada apa-apa." atau "Kamu harus bisa jaga kepercayaan orangtua. Dan kami percaya." semua itu engga bisa diremehin. Terkadang sebagai anak muda yang emang lagi beranjak dewasa, kita bisanya cuma bilang "Yaudah tenang aja Mah, Pah." Padahal kita seharusnya bisa nyimpen kepercayaan orangtua kita baik-baik.

Saya kaget banget denger kabar kalau ada gadis yang mau nikah, dan eh---dia hamil. ah? Jadi duluan mana tuh? Ternyata MBA. . God, I can't believe it. I can't believe that I hear that news straight to my ears. Sebelumnya saya pernah denger berita begituan tuh cuma sekenanya aja, kabar angin. dan itu pun bukan di sekitar saya. Ya, saya masih berpikir itu adalah hal-hal yang jarang buat ditemuin di sekitar saya. Tapi tenyata saya baru tahu kalau ternyata hal seperti itu bukan hal yang sulit ditemukan lagi! ckckck. Naas.

Yang bikin herannya, kenapa orang-orang yang melakukan hal seperti itu udah engga punya rasa malu buat diceritakan kepada sekitarnya? Padahal dengan seperti itu secara engga langsung bisa aja memancing tindakan lain dari sekitarnya untuk melakukan hal yang sama. Beruntung kalau misalnya lingkungan tersebut bisa menjaga diri dan tidak ikut terjerumus ke pergaulan bebas itu. tapi kalau ikut terjerumus, lah yo wis ndak tahu lah aku....

Semenjak ada pengakuan dari salah satu yang mengalami hal itu, jadi muncul dan banyak yang ngaku juga. OH GOD, is it the name of life? Saya bener-bener polos. Rasanya udah engga ada lagi kata "aib" atau "rasa malu" terhadap hal-hal yang masih dianggap tabu di negara timur ini. Naas. Kemana rasa malu orang-orang ya? Perilaku dan norma-norma akan hancur kalau tidak ada lagi rasa malu, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya itu adalah akal dan rasa malu----sesuai dengan apa yang guru saya bilang.

Tapi ya kalau udah terjadi mau gimana lagi, itu salah satu komentarnya. Dan ya, kalau udah tekdung, harusnya mereka berani ngambil resiko buat menjaga kandungannya. Jangan sampai tuh diaborsi. Udah dosa ditambah dosa. Haduh-haduh. "Entar kalau anak ini lahir ga akan gw urus ah, biar sama orang lain aja. Gw belum siap." itu salah satu contoh komentar calon ibu yang masih muda. yang belum menikah. Lah, kalau belum siap jangan dong ngelakuin yang engga-engga dan bahaya. Harusnya kalau udah berani ngelakuin yang kayak gitu, berarti berani juga buat nanggung resikonya kan?

Kayak kita makan yang pedes, berani kepedesan.
Muter-muter Mall, siap cape.

Tapi hidup bukan cuma sekitar kepedesan atau kecapean doang. Ya kan???

Tiap kasus punya beda cerita. Ada yang gara-gara suka sama suka, dipaksa, diperkosa, ataupun kecelakaan beneran. Ya, postingan ini sih mungkin berlaku buat sudut pandang yang suka sama suka ya. Hello, that's your privacy and you don't have to spread your privat news to others, isn't it? Apalagi tanpa ada perasaan bersalah dan malu waktu nyeritainnya. AMPUN.... kecuali ya dikau mau berbagi pengalaman buruk dan membagi pengalaman itu supaya orang lain belajar dari hal yang udah menimpa dikau supaya engga kejadian sama orang lain. Ya, lebih baik gitu lah... Mudah-mudahan kasus yang bikin pernikahan menjadi tak bermakna itu cepat berkurang dan banyak yang tobat.

Tapi ya kita juga engga bisa seenaknya ngejugde mereka yang melakukan hal itu ya? OH NO.. ini bukan masalah judge-men-jugde... tapi ini masalah tentang kita harus lebih berhati-hati lagi dengan pergaulan dan menjaga diri kita. Semoga kita bisa  ngambil hikmahnya dari salah satu problematika di atas. Apa mungkin bakalan beda keadaannya kalau orang terdekat kita yang ngalamin? engga tahulah. Ya mungkin kaget, dan pasti ya sedih. Mudah-mudahan dikasih yang terbaik. Kita ya berdoa aja dikasih terang abis gelap.

Alhamdulillah orangtua ngasih kepercayaannya sama kita, dan semoga kita bisa terus ngejaga kepercayaan orang tua itu sampai waktu yang dihalalkan itu tiba. Dan semoga kita masih ada dilindungan Tuhan yang Maha Kuasa, ya karena tanpa kita sadari---atau kita sadari, setan itu dimana-mana :S

SAVE SEX BEFORE MARRIED and NO DRUGS! MENIKAH before, KAWIN after. AMIN!


,
GGG

Back to Top