See you at my new blog.. do not hesitate to visit me :D thank you..
Say Hi to My New Blog :)
See you at my new blog.. do not hesitate to visit me :D thank you..
Harus Lebih Banyak Lagi Berdoa dan Berusaha
Akhirnya.
----
Salah, pikiranku salah. Kukira dengan cepat berlalunya Hari Rabu ini akan membuat pikiranku lebih segar dan lebih jernih. Tapi yang kurasa sekarang malah lebih mumet, puyeng dan kleyengan. Ah.. apa yang aku inginkan masih abstrak. Meskipun sudah tersusun, tetapi belum rapi. Nah, merapikannya ituah yang menjadi pekerjaan tidak mudah. Andai saja ada yang mampu membantu. Meringankan beban tentunya akan membuatku bernafas lebih lega. Andai saja. Sayangnya hanya aku sendiri yang harus menentukan,
By the way...
Hari ini aku bangun dengan tergesa, bercucur keringat tapi penuh senyuman. Ada murid-murid kelas 5 di SD Cipedes V yang menanti pelajaran Bahasa Inggris bersamaku hari ini. Ada pula dua penguji lainnya untuk seminar proposal yang siap aku hadapi. Dua-duanya penting dan harus dijalankan di hari yang sama. Alhamdulillah... keduanya tidak bentrok. Aku bisa menghadap penguji yang satu sebelum mengajar di SD, dan menghadap penguji satunya lagi setelah mengajar. Semuanya berjalan menyenangkan.
Walaupun menyenangkan, ada beberapa hal yang aku catat di pikiranku hari ini. Ah.. memang tidak ada yang sempurna. Untuk seminar proposal, aku sadar memang aku masih hijau dan perlu masukan sebanyak-banyaknya. Proposal yang aku buat masih banyak kekurangannya. Saran-saran mengenai pemilihan redaksi kata untuk judul, research design, research questions, sample, dan grammatical mistakes sangat berguna sekali untuk rencana penelitianku. Tapi, aku jangan senang dulu. Masih ada revisi yang harus diajukan untuk bisa mendapatkan SK untuk bimbingan skripsi. Ah... Kata yang langsung muncul ketika kepalaku mulai remang-remang hanya satu: SEMANGAT!
Selain masalah proposal, catatanku hari ini mengenai teaching process yang aku jalankan. Aku gugup, aku tau. Apalagi ketika guru Bahasa Inggris SD tersebut masuk di tengah-tengah saat aku mengajar. Aku langsung gelagapan mencari udara. Kata-kata yang sudah aku susun sedemikian rupa langsung menguap. Sambil mencoba menyusun kata-kata kembali saat mengajar, aku harus dealing with the students, yang aku rasa sangat membutuhkan usaha yang keras. Aku mengajar di minggu ke-tiga, dimana murid-murid sudah mulai merasa terlampau akrab dan cenderung susah diatur... Oh My.. tenaga mereka untuk berteriak dan aktif di kelas seperti sulit untuk habis. Sejam mengajar terasa berjam-jam. Keringat mengucur dari pelipis kananku tanpa aku sadari. Yang aku tahu, lesson plan yang aku susun harus bisa dilaksanakan karena sudah aku pikirkan matang-matang. Tapi pada akhirnya, "lesson plan is just a plan..." seperti kata dosenku, semua terserah padaku sebagai guru. Namun aku pikir, karena aku sudah berani mengambil tantangan ini, aku tidak mau menyia-nyiakan rencana yang telah aku susun. Alhamdulillah kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan.
Tapi sekali lagi, aku tidak boleh lupa dengan catatanku. Masih ada kekurangan dimana seorang murid meminta aku untuk mengajarkan mereka bernyanyi. Bukannya aku tidak mau, tetapi aku takut akan berpengaruh pada waktu T_T. Selain itu, aku mengalami kesulitan saat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran jika ingin memasukkan lagu. Banyak lagu-lagu yang berkaitan dengan materi yang aku ajarkan, tapi aku rasa lagu-lagu itu terlalu sulit untuk level yang aku ajarkan. Aku pun mencoba membuat sendiri lagu yang akan aku ajarkan, tetapi aku pasrah, aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri. Maka dari itu, saat murid memintaku untuk mengajak mereka bernyanyi, aku menolak. Entah itu baik atau buruk.
Suasana kelas begitu hiruk pikuk tadi pagi. Semua anak ingin aktif di kelas, dan itu bagus. Di akhir pembelajaran aku meminta komentar dari guru kelas tersebut. Beliau sangat senang dengan pembelajaran yang aku ajarkan karena murid-murid sangat antusias dan kegiatan yang aku ajarkan pun beragam. Alhamdulillah. Meskipun sang guru tidak memberi kritikan, aku harus mengkritik diriku sendiri. Terlebih ketika ada kegiatan dadakan dimana aku meminta bantuan siswa yang telah beres mengerjakan tugas yang aku berikan untuk membantuku menempelkan gambar-gambar di papan tulis. Kata temanku itu terlihat crowded, dan aku pun menyadari. Tapi saat itu sudah aku pastikan murid lainnya sedang sibuk mengerjakan tugas yang aku berikan. Hua..........Semoga hasilnya baik-baik saja.
Overall, apa yang aku lalui hari ini pasti membekas di pikiranku. Ada dua hal yang menjadi pengalaman pertama bagiku, dimana dua-duanya memberikan pengalaman yang berbeda.
Di Luar Perkiraan
Tapi hari ini aku merasa lebih lega dan tenang.
Semula yang aku bayangkan adalah keadaan tegang dan membuatku grogi saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penguji, tapi ternyata tidak. Semuanya berbanding terbalik. Ternyata seminar proposal tidak seseram yang aku bayangkan. Aku terlalu heboh berimajinasi. Malah pengujiannya aku rasa cenderung lebih ke memberikan rekomendasi untuk rencana penelitian yang aku ajukan. Dan itu menyenangkan :D
Tetapi tadi ada hal konyol yang aku alami. Aku sudah heboh saja khawatir proposalku ditolak karena dosen penguji tidak memberikan proposal yang sudah ia komentari kepadaku, sementara yang mahasiswa lain yang diuji diberi. Kutunggu, kutunggu dan pada akhirnya datanglah suatu kenyataan.. ternyata proposalku di ACC oleh dosen tersebut dan tadi ia lupa memberikan kembali proposal yang sudah ia komentari kepadaku. Hah.. lepas sudah rasa penasaranku. Tinggal persiapan untuk esok hari.. Harus lebih banyak tersenyum dan berdoa.
Sekarang sepertinya aku bisa beristirahat sejenak untuk menonton tv series kesukaanku. The Vampire Diaries & Glee S04E06 sudah melambaikan tangan.
P.S. Salah satu teman bilang kalau hari ini aku jadi kalem dan nampak tidak seperti Pia yang biasanya. Wah? Padahal aku luar biasa gelagapan dan gugup =))
Percakapan Ini

The Finale
Some people say that making yourself busy is good for your health. By the way, I don't really know that it happens to be like that. All I have known that it was today which makes me tired all day loooong~
This 7th semester forces me to wake up early and go straight taking a bath.. because there's no agreement for 7 am class, everyday. Hmmm but actually, It's counted 'everyday' to my college-days. From Monday to Thursday, and also the Wednesday (that I was supposed to be free). Moreover, there are some dense lectures too 'till 3 pm for Tuesday and Thursday. Ulalalala~ it's difficult to smile again... :(
Busy? Wish me luck.
After lecturing today, I met Yuli (one of my bestfriends) and we went to my place together. It's just a coincidence! When planning everything doesn't work, the faith shows if something should happen, it happens. Yet with this case, we barely meeting each other but then the coincidence came :) So... we could share some stories until her time to go home was popped
Then I remembered watching Teen Wolves Season 2 would make my day lighten up (even though for a lil bit). Yeah. I know.. I feel like my chance to watch it was gone, because it should have been watched from several weeks ago. But whoaaa... how come if i didn't know this crap is very interesting and I think that I'm engaged with the characters! :D
So, I just finished watching it, and grabbed some pictures. Can't wait to watch it again.... next summer? :((
This finale won't make me stop adoring how cute Tyler Posey is! If he were my boyfriend, even though he's a werewolve, I am acquiesce in being bitten by him. So that we could roaaaar together :p
For you, my partner in love


When All I Can Do is Nothing

Once a Week

Bayi yang Tak Punya Cukup Hak
Emptiness
Changing Mood
Sayang, aku sudah pernah berbicara denganmu perihal hal ini. Hal yang bisa membuat mood-ku berubah. Apakah kau ingat? Sedikit aku ujarkan....
Aku rindu kamu, kamu tahu itu. Karena saking merindumu... bahkan tak jarang aku meneteskan air mata untuk sesuatu yang bahkan tingkat kesedihannya pun di bawah rata-rata. You know I'm very sensitive. Untuk hal yang membahagiakan pun aku menangis. Hal yang lucu? Aku menangis... Mungkin kantung mataku dibuat oleh PDAM. Mudah sekali mengalirkan air mata...
Atau ini adalah hujan? Yang mungkin dialihkan oleh seorang pawang di suatu tempat yang tidak menemukan tempat lain untuk pengalihan air hujan... Hey, ini ilusi rupanya.
Kembali lagi, dengan rindu. Aku merindumu, namun bukan berarti aku siap menerima kabarmu di setiap waktu. Awal mula aku beri tanda agar kau mengerti. Aku pun ingin bercakap lama denganmu. Namun mood-ku sudah terlanjur berputar arah. Aku bisa multitasking, tapi ku kira kamu mengerti bahwa ini adalah hari-hari yang sulit dalam proses perkuliahanku. Jika kamu menyemangatiku untuk belajar dengan sungguh-sungguh, mengapa tidak langsung saja kamu memintaku?
Kabarmu tidak menggangguku, tentu tidak. Karena aku sangat menunggunya. Senang aku mendengar suaramu, namun mengapa kamu lupa bahwa aku adalah orang yang memiliki tingkat kegengsian yang tinggi untuk mengakui sesuatu? Tadi aku berharap kamu akan menanyakan dan mengajak berbicara untuk hal-hal yang belum kita perbincangkan... tapi ternyata kamu terus mengulang. I've told you in the texts that I sent..
It's My LDR Version
I could stand several feelings of having LDR with someone that I've been keeping the commitment about, I always do. Even though I don't know what are the next things that could happen, which is the unpredictable one.
Okay, let me count down.
.............
Semula, ok. Tiada yang salah dengan mencoba memiliki hubungan jarak jauh. Semula, oh oke, mereka banyak yang berhasil walaupun rintangan tidak mudah. Semula... lebih semula daripada semula yang telah aku katakan, aku tidak percaya orang-orang tersebut melakukan LDR demi seseorang yang mereka sebut itu cinta. Bahkan aku sempat berujar, aku tak akan mungkin akan mampu bertahan dengan kenyataan memiliki hubungan dengan seseorang yang keberadaannya pun tidak ada di dekat kita. Namun, kenyataan saat ini berbanding terbalik.
Semula, semuanya biasa saja. Semula terasa baik-baik saja, normal dan oh oke, it's a beautiful life. Bertemu dengan seseorang yang kau sayangi setiap hari, tiada henti, kemana pun selalu bersama dan... berujung pada kecanduan. Ya, candu akan dirinya yang harus selalu di dekatmu. Dia yang menjadi teman, sahabat, kakak dan kekasihmu. Ada resiko yang aku pahami namun ternyata di balik itu ada sesuatu yang tidak aku mengerti.
Aku semakin mendekati resiko itu.
Tibalah waktunya, tibalah kenyataan yang tak aku acuhkan, yang semula aku abaikan. Kamu harus pergi menggapai cita-citamu, apa yang sudah kau rencanakan bahkan sebelum berencana untuk jatuh hati padaku. Aku tak mungkin melarangmu, karena aku pun mengerti---keinginan yang terpenjara itu sungguh tiada berguna, tiada rasa dan percuma. Tidak akan beranak-pinak kebahagiaan apalagi kesuksesan. Maka di sanalah aku dengan yakin... turut mendukungmu dengan rencanamu. Walaupun sebenarnya aku sakit, sedikit tidak rela pada awalnya: karena aku akan merasa sendiri, dan tidak jauh berbeda dengan mereka yang sendiri. Pikiran-pikiran itu rupanya telah bersarang di sel otakku tanpa aku sadari. Namun aku yakin, yang semula terbiasa denganmu, tak akan terlalu sulit bagiku untuk melepasmu.
Ingat percakapan kita dahulu? Dahulu sekali, saat belum banyak saling mengenal satu sama lain. Bahkan zodiakmu pun aku tak tahu.
Me: "Kok kamu mau pacaran sama orang yang seneng banget nyari kesibukan kayak aku? Justru orang lain pada nyerah dan ogah punya pacar dengan beragam kegiatan kayak gini."
You: "Justru nanti kalau ditinggal biar tenang, biar tetep ada kesibukan. Dan engga kesepian..."
Well, it's just simply lightning into my day (at that time), and oh, the days after that day too. I feel so ...... (speechless). Okay, I'll be alright.
Karena pada dasarnya, menurutku, bahwa problematika dalam percintaan atau pun suatu hubungan itu tidak boleh merusak passion yang sudah ada di dalam diri kita. Bukan menjadi penghambat, tetapi membantu memotivasi dan terus memacu semangat. And yes, we're on our tracks---each other. We're different. We're so much different. I do everything that I want to do, and so do you. It's not a problem, it doesn't trigger any obstacle. We do always have to motivate each other. And it's good.
Back to the confusion thing.
Setelah aku sadari, ternyata aku tidak melakukan banyak persiapan untuk berpisah denganmu secepat itu. Berpisah maksudku, yang terbiasa bersama setiap waktu lalu---hanya bisa bertemu di akhir minggu, karena kita akan berada di kota yang berbeda. Itu pun jika beruntung. Baiklah, seminggu... terasa cukup sulit. Dua minggu.. aku bisa beradaptasi. Tiga minggu... lebih bisa beradaptasi walau serangan rindu jauh lebih ganas. Empat minggu... dan sehabis itu kamu berkata sebulan ke depan kita tak dapat bertemu, termasuk di akhir minggu. Karena kamu akan bertemankan ombak dan kapal laut. Baiklah, aku menyesal pertemuan denganmu tidak aku manfaatkan sebaik mungkin saat itu. Aku tak ingin menangis saat berkata, "Jaga diri baik-baik ya" atau mungkin berucap "Dadah..". Maka aku putuskan untuk tidak melihat wajahmu di pagi itu. Aku memunggungimu, dan aku menyesal.. karena aku hanya menjadi pengecut yang hanya mampu mengeluarkan air mata saat perlahan menjauhimu dan saat ku berpaling, kulihat kamu sudah tak ada lagi di tempat tadi kamu berdiri.
Ternyata, saat itulah yang sekarang aku rindukan jika mampu diputar kembali.
Sekitar 20 hari, katamu. Ya, kamu akan merayakan Hari Raya di atas lautan, sudah terprediksi. Tetapi kita masih bisa merayakan hari ulang tahunmu---dan hari ulang tahun hubungan kita yang pertama. Aku sangat bersemangat, dan hari-hari kulalui dengan berharap 10 hari lagi kamu akan pulang. Dan ternyata... ada kabar menjadi sebulan: katamu. Lalu berubah menjadi dua bulan, susul kabarmu yang berikutnya.
Lalu apa yang aku bisa perbuat? Merindumu? Sudah barang tentu itu aku lakukan tanpa harus ku katakan pada orang lain. Jika Tuhan memiliki rasa bosan, tentunya dia sudah tak tahan dengan rasa rindu dalam diriku. Tapi, pertanyaan yang sama pentingnya muncul kemudian, ataukah aku hanya takut kesepian?
Kau berkata aku pasti mampu. Lihat diriku sebelum mengenalmu, ujarmu. Seorang perempuan yang tak mengenal kebosanan dan kesepian.. namun Sayang, kau melupakan variabel lain yang turut mempengaruhi itu semua, saat itu aku masih sendiri... dan sekarang tidak. Apa-apa yang aku lakukan akan turut dipengaruhi oleh faktor lain: kamu. Semua hal tidak akan lagi menjadi sama.
Namun mungkin, ini memang cobaan. Godaan terlalu banyak menyerang, Sayang. Andai kamu ada di sini membantuku melawannya. Aku bukan tipikal orang yang selalu bisa membuat perasaan menjadi tersurat. Bisa jadi apa yang aku tampilkan, bukanlah yang benar-benar aku rasakan. Bisa jadi apa yang aku tampilkan, justru benar yang aku rasakan namun orang lain tidak percaya. Simpulkanlah hal ini...
Orang-orang lebih menyukaiku tersenyum, gembira dan bahagia. Tidak heran jika mereka enggan mendengar kesedihanku, dan cenderung membuka topik baru yang harus aku dengar dan perhatikan walau aku tak suka. Namun apa boleh buat, itu yang mereka suka. Mereka mengenalku sebagai diri yang ekstrovert. Bukan berarti aku tidak menjadi diriku sendiri, namun, karena inilah diriku. Berbeda denganmu, aku tahu kamu pun lebih menyukai jika aku ceria. Namun aku tahu, bahwa kamu tahu aku bukanlah sosok yang persis dengan apa yang dipikirkan orang lain. Terlalu rumit segala sesuatu di dalam kepalaku. Aku rindu dengan orang yang mampu mengenalku secara objektif, aku rindu.
Namun sekarang, sedikit banyaknya ada beberapa hal yang aku rasa menguap drastis.. Siapa bilang intensitas komunikasi tidak berpengaruh dalam suatu hubungan, apalagi LDR? Semula kita tidak memiliki masalah dengan komunikasi, sampai kamu berada pada jarak di luar jangkauan sinyal provider. Ya, itu sangat berpengaruh. Satu hari-dua hari. Aku coba tahan. Tiga hari sampai seminggu.. aku cukup terbiasa. Terbiasa dengan situasi tanpa kamu.. Dan ternyata, aku menyadari, hal yang menguap drastis itu tidak adanya perhatian----seperti apa yang aku butuhkan. Andai kamu tahu, itu yang membuatku sedikit uring-uringan. Mungkinkah kamu tidak lagi menjadi orang yang mengkhawatirkanku ketika aku pulang sendiri malam hari? Mungkinkah kamu menjadi seseorang yang tidak merasa janggal mengapa berat badanku sempat turun drastis? Mungkinkan kamu menjadi seseorang yang merasa bertanya 'Sudah makan?' adalah sesuatu yang tidak lagi penting? Atau memaksaku hanya untuk menelan satu sendok nasi? Ya... atau hal-hal lainnya (hal yang kecil dan tidak terlalu penting lainnya?). Aku rindu kita saling mengingatkan. Aku candu agar kita saling menguatkan. Namun sekarang, tak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu kabar darimu terlebih dahulu. Aku rindu perhatian, akan kugaris bawahi hal itu. Aku tidak munafik.
Terserah orang berkata apa. Terserah orang berpikir aku berlebihan. Namun mereka tidak berada di situasi yang aku rasakan. Rasakan saja jika mereka mencibirku lalu merasakan hal yang sama. Sulit.
#SomethingToday : The Correlation Between Happy and Smile
- Kalau semua orang bisa bilang "I'm the happiest person everyday" pasti dunia ini penuh senyuman yah :)
- ...I'm happy because knowing there is a thing named sad..
- kalau gak ada sedih, ga bakal ada pembanding tingkat rasa senang :) RT
@vianadya: Psti dunia ini pnuh dg kmunafikan
- so, in my point of view, even though we're sad, but we're lucky--we're happy. Intinya mah nikmatin we lah..
- trying to comfort ourselves isn't a sin, is it? ;)
- this is the name of dilemmatic condition.. stuffy but I should smile, yeah. Cheer my self up..
A Year With This Indulgent Person :)
"You see, I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad,
If You only knew what I'm go ing through,
I just Can't Smile Without You. " --- Barry Manilow
Today (in last year), I got something inside my stomach. Yeah, it was a butterfly. It flew above my speech and then I said "yes" for someone's question. I couldn't believe it, because (in that time) I didn't even know him much. He's one of hundreds people that met with me at Komunitas Aleut booth in Opening House Unit ITB (7th of August, 2010). So.... it was very unpredictable condition being in relationship with someone that you just knew---in a month). But I knew that decision wasn't wrong.. because it metamorphosed into million roses that never shriveled.. :)
An approach doesn't represent how many days that you will through along in relationship process. Believe me. A short one won't identified how long the relationship would be, because it depends on how we could deal with understanding each other, or bear with problems come up.
This person could muffle me with his way, with his quiscent thing.
This person could make me curious because of his unique characteristic.
This person could stand my debate---discussion of everything that questioning in my head.
This person could be honest to say I'm a stubborn girl.
This person could make me try sticking out of having Long Distance Relationship.
This person.... oh I have too much everything to say. This posting wouldn't enough.
This person is Ihsan Nurul Fauzi.
Someone who loves hiking and he treats me like a princess.
Someone who I couldn't meet on my first anniversary with him.
Someone who I couldn't hug on his 23rd birthday.
But I wish I'll always be the only special birthday present, as he said last year. As I agree to be.
Thanks God, he loves me just the way I am.
Just Like.. The Last Time

Ketika Keberuntungan Dipertanyakan
Saya ingat betapa Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang sulit saya kuasai, karena sampai akhir masa belajar kelas tiga SMA pun saya belum pernah mendapatan nilai sempurna untuk mata pelajaran ini dalam setiap ujian. Pasti hasilnya dibawah pelajaran lain, termasuk matematika dan Bahasa Inggris. Cukup aneh, memang. Padahal saya pakai Bahasa Indonesia hampir setiap hari dan saya cukup menyukai peribahasa yang mengandung idiom-idiom di dalamnya. Cukup untuk menimbulkan multi interpretation apalagi jika peribahasa-peribahasa itu secara tak disadari ternyata pernah kita alami. Pernahkah kamu merasakan salah satu peribahasa terjadi kepadamu?
Saya pernah. Mulai dari kemarin dan belum berakhir sampai sekarang. Selama belum 2 x 24 jam belum wajib lapor satpam, kan? Eh.
Beberapa peribahasa yang kemarin saya share di twitter ternyata direspon juga oleh beberapa teman dan mereka ikut membagi peribahasa yang mereka sedang alami. And here , they are...
- Untung bagaikan roda pedati,sekali ke bawah sekali ke atas = Keberuntungan atau nasib manusia tiada tetap, kadang di bawah dan kadang di atas
- Luka sudah hilang parut tinggal juga = setiap perselisihan selalu meninggalkan bekas dalam hati orang yang berselisih, walaupun perselisihan itu sudah berakhir
- Menanti-nanti bagaikan bersuamikan raja = Menantikan bantuan dari orang yang tidak dapat memberikan bantuan
- Terlalu aru berpelanting, kurang aru berpelanting = Segala sesuatu yang berlebihan atau kurang akan berakibat kurang baik
- Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi = Orang yang tidak mampu menolak bahaya yang menimpanya
- Ditindih yang berat, dililit yang panjang = Kemalangan yang datang tanpa bisa dihindari.
- Tolak tangan berayun kaki, peluk tubuh mengajar diri = Belajar untuk mengendalikan diri dan meninggalkan kebiasaan bersenang-senang
- Bagaikan abu di atas tanggul = Orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh
- Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul = Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya
Semacam kemalangan ya ternyata peribahasa yang saya alami? Ya.. cukup lah untuk mengernyitkan dahi dan menahan tanggul perasaan yang tak mampu diluapkan. Sampai-sampai saya juga merasa keberuntungan itu tidak ada. Jikalau ada, mungkin dia sedang tidak berpihak. Tapi entah mengapa saya lebih cenderung memilih praduga yang pertama. Ah, dasar manusia. Ketika mengalami kesedihan pasti terkadang suka berpikir berlebihan. Seperti saya sekarang ini.
whispering to my own ear: "It's not your lucky day.. if lucky does exist."
Kebetulan sewaktu saya membaca "buku pintar", saya menemukan beberapa istilah dari bahasa latin yang kemudian saya mix dengan keadaan saya.. Oke, pikiran orang lain bercampur dengan pikiran sendiri.
But if feel the sadness n still want to cry, let it goes. Because your chance to do it Nunc Aut nunquam: now or never --> Sekarang saja atau tidak sama sekali
Stop your crying and think that everything alright. Nec Beneficii Immemor Injuziae: Lupakan kepedihan, jangan lupakan kebaikan ( Kebaikan orang lain, bukan kebaikan diri sendiri )
If you feel so desperate, remember that "Nemo Sine cruce beatus": tak ada kebahagiaan tanpa rintangan.
Semoga Ira furor brevis est benar adanya. : kemarahan itu adalah suatu amukan yang sementara saja
Incidit in Scyllam qui vult vitare Charybdum: dari gerimis ke dalam hujan, dari tepian masuk selokan; sudah jatuh tertimpa tangga pula
In silentio et spe fortitudo mea: dalam keheningan dan harapan akan muncul kekuatan.
Mungkin tak ada kata yang mampu menggambarkannya: Ketika hati tak mampu berkoordinasi dengan pikiran dan kenyataan, dan ketika segala sesuatu terasa menghantam mukamu secara tiba-tiba. Sesuatu itu datang bersamaan dengan teman-temannya. Seperti hujan deras yang turun secara tiba-tiba tatkala kita sedang berjemur di pinggir pantai, cukup menyiksa bukan? :)
Entah siksaan atau cobaan, yang pasti saat ini saya sedang diberikan "anugerah kenikmatan" sebagai wanita. Mau tak mau harus diterima, karena tamu yang satu ini tak mampu ditolak oleh wanita manapun. Belum lagi hormon yang berpengaruh terhadap segala sesuatu. Saya berani menjamin banyak wanita yang pernah merasakan "sakitnya" saat tamu ini datang.
Meskipun diantara mereka ada beberapa (sebagian sangat kecil) yang beruntung tidak merasakan pengaruhnya.
Oh, sungguh beruntung.
Dan cukup beruntung pula jika kita yang pernah mengalami pengaruh itu dapat dimengerti oleh orang lain yang ada di sekitar kita. "Kalau kami mampu menolak pengaruh itu, dengan senang hati akan kami lakukan dengan penuh senyuman..." sayangnya saya tidak :(
Mata yang sembab, perut yang sakit, melilit dan belum terisi makanan hari ini, badan yang terasa dihantam preman pasar---semua terasa ada lebam diseluruh bagian, dan perasaan yang belum berada sejajar dengan garis horison menjadi pelengkap di hari ini. Sungguh malang. Terasa sebentar lagi akan pingsan, rupanya.
***
Oh ya, saya ingin memberikan perumpamaan.
Kalau ada orang yang tertabrak dan orang yang menabrak hanya berkata "Maaf" : apakah itu cukup? (di luar seberapa parah akibat dia tertabrak)
Mungkin bukan seberapa banyak kata maaf yang diucapkan untuk si korban, tetapi seberapa care orang yang menabrak itu untuk mengetahui keadaan si korban. Bukan begitu bukan? Begitu.... :)
***
P.S. : Jangan mengira-ngira sesuatu sampai kamu sendiri mengetahui sesuatu itu dari sumbernya.

written by





